Peringatan menyambut Hari Raya Tri Suci Waisak yang dirayakan umat Buddha di Surabaya sudah terlihat sejak Minggu (27/5). Meski perayaannya tepat pada Selasa (29/5), namun aktivitas menyambut hari raya terbesar dan paling bermakna bagi umat Buddha ini sudah dilakukan dua hari sebelum hari H.
Ginanjar Elyas Saputra/Radar Surabaya
Waisak berasal dari bahasa Pali Vesakha atau di dalam bahasa Sansekerta disebut Vaisakha. Vesakha diambil dari bulan dalam kalender Buddhis yang biasanya jatuh pada bulan Mei kalender Masehi.
Menurut Upasaka Pandita Dharmasaputra Irwan Pontoh mengatakan Waisak diperingati tiga peristiwa penting yang semuanya terjadi di bulan Vesakha dan pada waktu yang sama yaitu tepat saat bulan purnama. “Jadi ada beberapa peristiwa penting yang perlu di ketahui saat Hari Raya Waisak tiba,” ujar Irwan seusai proses persembahyangan di Vihara Buddhayana, Jalan Raya Putat Gede, Putat Gede, Suko Manunggal, Minggu (27/5).
Tiga peristiwa penting itu yakni pertama adalah kelahiran Pangeran Sidharta, merupakan Putra dari seorang Raja yang bernama Raja Sudodhana dan seorang Permaisuri yang bernama Ratu Mahamaya. Pangeran Sidharta lahir ke dunia sebagai seorang Bodhisatva (Calon Buddha, Calon Seseorang yang akan mencapai Kebahagiaan Tertinggi,Red).
“Beliau lahir di Taman Lumbini pada tahun 623 sebelum Masehi,” terangya.
Sedangkan yang ke dua adalah pencapaian Penerangan Sempurna. Di kala itu Pangeran Sidharta tidak pernah keluar dari istana, pada usia 29 tahun beliau pergi meninggalkan istana dan pergi menuju hutan untuk mencari kebebasan dari usia tua, sakit dan mati. Kemudian pada saat Purnama Sidhi di bulan Waisak, Pertapa Sidharta mencapai penerangan sempurna dan mendapat gelar Buddha Gautama.
Dan yang ke tiga adalah Pencapaian Parinibbana. Ketika usia 80 tahun Buddha Gautama Wafat atau Parinibbana di Kusinara. Semua makhluk memberikan penghormatan kepada Sang Buddha dan begitu juga para anggota Sangha, mereka bersujud sebagai tanda penghormatan terakhirnya kepada Sang Buddha.
Dalam pelaksanan menyambut Hari Raya Waisak ini, para umat mempersiapkan berbagai ritual lainnya, diantaranya adalah pengambilan api abadi, dan pengambilan air suci. Irwan yang juga sekaligus ketua Majelis Buddhayana Indonesia, Provinsi Jatim menambahkan, dari sifat api abadi melambangkan kobaran semangat manusia untuk mendapatkan pencerahan dan menghapus kesuraman dalam kehidupan.
Sedangkan air suci merupkan lambing dari sifat kerendah hatian seseorang. “Kedua sifat tersebut merupakan bagian dari cerminan manusia. Persembahan air mempunyai makna agar pikiran, ucapan dan perbuatan selalu bersih,” pungkas Irwan. (*/rud)
Editor : Administrator