Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Empat Bomber Tewas di Mapolrestabes Satu KK

Administrator • Selasa, 15 Mei 2018 | 22:33 WIB
Empat Bomber Tewas di Mapolrestabes Satu KK
Empat Bomber Tewas di Mapolrestabes Satu KK


SURABAYA - Rangkaian teror bom bunuh diri terjadi beruntun. Setelah meledakkan tiga gereja, dan rusun Wonocolo, Sidoarjo. Pelaku kembali beraksi dengan meneror markas Polrestabes Surabaya, Senin (14/5) pagi. Empat pelaku tewas dalam bom bunuh diri ini.


Berdasarkan data yang dihimpun, ledakan bom di gerbang Mapolrestabes Surabaya ini terjadi sekitar pukul 08.50 WIB. Saat itu, terdapat empat anggota polisi yang berjaga. Mereka adalah, Bripda M Maufan, Bripka Rendra,  Aipda Umar dan Briptu Dimas Indra.


Pada saat proses penjagaan, terdapat sebuah mobil Toyota Avanza warna hitam dengan nopol W 1885 AZ yang hendak masuk ke Polrestabes. Kemudian, satu anggota menghentikan mobil untuk melakukan pemeriksaan.


Tak lama kemudian, datang lima orang satu yang mengendarai dua sepeda motor. Tiga orang yang melaju didepan, mengendari sepeda motor Honda Supra dengan nopol  L 5539 G. Mereka adalah seorang pria, orang perempuan dan anak kecil. Sedangkan motor yang dibelakangnya yakni, Honda Beat nopol L 6629 MF dikendarai oleh dua orang remaja laki-laki.  


Belakangan kelima orang tersebut adalah satu kelurga. Mereka adalah, Tri Mulyono,50,  Tri Ernawati, 43, keduanya adalah pasangan suami istri (Pasutri). Pasangan yang tinggal di Jalan Krukah Selatan 11 B/ 11, Ngagel Rejo Wonokromo ini melakukan bom bunuh diri bersama tiga anaknya yakni  M Daffa Amin Murdana, 18, dan M Dari Satria, 14, serta AAP,7,


Setelah mereka berada di gerbang, kelimanya dihentikan oleh tiga orang anggota yang berjaga. Bahkan seorang tukang parkir pun ikut mencoba mengentikan mereka yang mencoba menerobos. Namun setelah beberepa detik kemudian dua bom pun meledak, dari dua motor tersebut.


Ledakan yang cukup keras membuat tiga anggota yang melakukan pemeriksaan dan satu penjaga parkir terpental. Kemudian satu anggota lain yang saat memeriksa mobil juga ikut terluka akibat pecahan bom. 


Selain anggota polisi, ledakan pada Senin pagi tersebut juga melukai enam warga sipil salah satunya adalah tukang parkir. Mereka adalah Atik Budi Setia Rahayu, Raden Aidi Ramahdan, Ari Hartono, Ainur Rofiq, Ratih Atri Rahma dan Eli Hamidah.


Setelah terjadi ledakan tersebut polisi lantas melakukan upaya sterilisaisi lokasi. Semua kegiatan yang berada tidak jauh dari lokasi dihentikan, termasuk pedagang, aktifitas kantor dan juga angkot yang ngetem di Jalan Veteran. Kemudian, polisi memasang garis polisi hingga radius 100 meter.


Akibatnya Jalan Veteran dan jalan tembusan yang mengarah ke Jalan Veteran ditutup total. Pada proses pengamanan ini diwarnai dengan sejumlah insiden. Diantaranya pengaman tiga orang yang dianggap mencurigakan.


Kemudian, proses identifikasi dilakukan. Mulai dari mencari serpihan bom dan juga mengevukasi empat mayat terduga pelaku teroris. Proses tersebut berlangsung hingga sore hari. 


Sementara itu, Kapolri Jendral Tito Karnavian memastikan jika peristiwa bom yang terjadi selama dua hari tersebut dilakukan oleh satu jaringan yakni kelompok JAD Surabaya. Ketiga peristiwa itu semuanya melibatkan satu keluarga.


“Mereka mengajak anak-anaknya untuk melakukan aksi bom bonuh diri tersebut,” ungkap Tito.


Tito juga mengatakan pihaknya masih melakukan perburuan sejumlah orang yang diduga menjadi pelaku teror di Surabaya. Menurutnya dalam dua hari ada 13 orang terduga teroris yang diamankan dari Surabaya dan Sidoarjo.


“Sedangkan empat diantaranya kami tembak mati,” imbuhnya.


Sedangkan mengenai jenis bom yang diledakkan di Polrestabes Surabaya hampir sama dengan bom yang digunakan di Gereja Pantekosa Pusat Suarabaya di Jalan Arjuno. Hanya saja pihaknya masih melakukan pemeriksaan.


Dalam kesempatan itu, Tito juga mengatakan jika perakitan bom tersebut dilakukan tidak hanya diajarkan oleh kelompoknya. Sebab mereka juga bisa belajar secara otodidak dengan panduan situs-situs online.


“Saat ini banyak sekali situs-situs radikal yang kontennya berisikan ujaran kebencian hingga cara perakitan bom,” tegasnya.


Selain Kapolri, Katua DPR RI, Bambang Soesatyo mengatakan selama ini yang menjadi penghalang polisi melakukan penindakan terhadap terduga pelaku teror lantaran Undang-undang tentang terorisme yang tak kunjung digedok.


“Untuk itu,kami yang berada di DPR akan segera membahas tentang ini,” ungkapnya.


Sehingga dengan segara disyahkannya UU terorisme tersebut, polisi bisa mengamankan orang-orang yang dianggap atau dicurigai sebagai pelaku teror.  Dengan demikian, polisi bisa menindak sebelum mereka beraksi. (yua/rud)

Editor : Administrator