KOTA –
Anggota Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Gresik terus mencoba mempertahankan pakaian pernikahan tradisional. Kemarin, mereka mengajarkan mewiru jarik atau melipat jarik dengan benar kepada anak muda di Kampung Kemasan.
“Saat ini sudah banyak yang melupakan wiru jarik, padahal akan sangat bagus untuk pelestarian tradisi dimana membutuhkan ketelatenan dan kesabaran dalam mewirunya, bisa membutuhkan waktu 15 hingga 30 menit untuk setiap jarik, terlebih bagi pemula,” sebut Perias sekaligus WO Tradisional Gresik Siswantini Jumadi.
Ia menjelaskan, wiru jarik ini merupakan cara membiasakan diri melipat jarik sesuai pekem. Dijelaskan, wiru jarik untuk perempuan harus memiliki lebar dari lipatan atau wiruan jarik sebesar dua jari. Kemudian, jumlah lipatannya harus berjumlah ganjil dan menghadap kanan. “Sebab, filosofinya arah lipatan ini menghadap pada posisi laki-laki sebagai pengantinnya,” terangnya.
Sementara untuk laki-laki, besar lipatan jarik berukuran tiga jari dan menghadap ke kiri. Untuk jumlah lipatannya juga sama dengan perempuan. Yakni, berjumlah ganjil dari hitungan angka tiga. “Untuk jumlahnya diikutkan dengan ukuran pinggul dan bawahan mempelai,” lanjutnya.
Ketua IWAPI Gresik Ninis Trisilowati menyebutkan, kegiatan yang diperuntukkan menyambut hari kartini ini tentunya mengambil cara kreatif dalam menjaga kebudayaan. “Kita berdayakan para perias di Gresik untuk menularkan ke masyarakat, agar minat terhadap outfit tradisional untuk pernikahan ini juga tinggi, termasuk anak muda seperti mahasiuswa yang kita libatkan saat ini,” ungkapnya saat ditemui di Kampung Kemasan.
Sementara itu, salah satu mahasiswi yang ikut mewiru jarik adalah Putri Ayu Arumsari. Menurutnya, wiru jarik cukup rumit dan sudah jarang ia lihat di pasaran. Sebab, saat ini kebanyak jarik yang digunakan adalah jarik modern tanpa wiru. “Jadi bisa untuk refrensi, termasuk mengenal budaya yang tadinya kita anggap itu biasa saja ternyata merupakan warisan budaya,” imbuhnya. (est/rof)
Editor : Administrator