KOTA –
Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA) menempati urutan pertama dengan jumlah pasien tertinggi di RSUD Ibnu Sina. Penyakit ini paling banyak diderita anak-anak. Faktor terbesarnya, dikarenakan polusi yang tinggi.
"Penyakit itu menempati peringkat pertama di RSUD Ibnu Sina," sebut Kepala Bidang Pelayanan Medik RSUD Ibnu Sina Wiwik Tri Rahayuningsih.
Disebutkan, 355 anak menjalani perawatan karena ISPA. Usia paling rentan terserang ISPA adalah usia 1 hingga 5 tahun yang berjumlah 65 anak, sedang diusia bawah 1 tahun mencapai 44 anak. "Usia 5 sampai 15 tahun sampai 27 anak menderita ISPA," sebutnya.
Menurut dia, selama ini penderita ISPA selalu terlambat berobat. Padahal, hal ini rawan mengakibatkan komplikasi pneumonia. Yakni, penyakit yang paling sering diderita anak. Penyakit itu muncul ketika anak yang menderita ISPA tidak segera mendapat pengobatan. "Akibatnya, timbul komplikasi di organ paru," ujarnya.
Selain cuaca, polusi udara juga menjadi pemicu terjadinya ISPA. Selain asap pabrik, jalur tengkorak dari Gresik utara hingga selatan juga menyumbang polusi. Saluran pernapasan rawan mengalami infeksi akibat udara yang tercemar. Meski tergolong penyakit ringan, ISPA tidak boleh disepelekan. Sebab, penyakit tersebut bisa memicu berbagai macam komplikasi. "Selain pneumonia, bisa memicu bronkopneumonia," sebutnya.
Sementara itu, Dokter Spesialis Anak RSUD Ibnu Sina dr Wiweka Merbawani menguraikan, ISPA tergolong penyakit yang mudah menular. Akibatnya, jumlah anak yang menjalani rawat inap terus meningkat. “Rata-rata yang awat inap sudah mengalami komplikasi pnemonia,” terangnya.
Wiweka menyatakan, polusi udara bukan penyebab utama pneumonia. Namun, hal tersebut memperburuk kondisi penderita. Penyebab utamanya, virus atau bakteri. Kasus pneumonia anak dan balita cenderung lebih banyak daripada orang dewasa. Sebab, daya tahan tubuh anak lebih rentan. “Gejala awal biasanya sesak nafas”, paparnya.
Ia menambahkan,, penanganan yang tepat harus diberikan untuk menghindari risiko terburuk. Penderita yang sudah mengalami komplikasi harus segera mendapatkan asupan oksigen. “Selanjutnya, penanganan fokus pada virus atau bakteri penyebab pneumonia,” imbuhnya. (est/rof)
Editor : Administrator