Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

15 Ribu Warga Surabaya Belum Punya MCK

Administrator • Senin, 23 Oktober 2017 | 23:08 WIB
15 Ribu Warga Surabaya Belum Punya MCK
15 Ribu Warga Surabaya Belum Punya MCK

SURABAYA - Sekretaris Komisi C DPRD Surabaya Camelia Habiba mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memaksimalkan program rehabilitasi sosial daerah kumuh (RSDK), yang salah satunya bisa jadi upaya mengatasi masalah sanitasi.


Pasalnya, meski banyak menyabet penghargaan nasional dan internasional tentang lingkungan, kota Surabaya ternyata masih banyak memiliki masalah sanitasi. Hal ini terbukti banyak warga Kota Pahlawan yang masih belum memiliki ruang untuk mandi cuci kakus (MCK), khususnya jamban sendiri di rumahnya masing-masing.


Menurut Habiba, Pemkot Surabaya setiap tahunnya memiliki program RSDK. Selain program RSDK juga ada program pembangunan MCK komunal. "Bagi yang status tanahnya jelas, maka harus menjadi prioritas meski dilakukan secara bertahap," kata Habiba, Minggu (22/10).


Habiba mengungkapkan, sesuai data dari pemkot, ada sekitar 15 ribu warga Kota Pahlawan belum memiliki MCK. Warga yang tak memiliki MCK itu tersebar di berbagai tempat. Sekitar 7.800 warga tinggal di atas tanah ilegal, dan sebanyak 7.200 adalah warga yang tinggal di tanahnya sendiri, namun tidak memiliki MCK atau jamban.


Politisi PKB ini menyebutkan kondisi ini merupakan ironi. Pembangunan dan kawasan yang diperhatikan Pemkot Surabaya belum merata secara keseluruhan. Dari segi wilayah, mayoritas adalah kawasan pemukiman kumuh di Surabaya Utara. Sedangkan di kawasan tengah kota seperti Tegalsari juga masih terdapat pemukiman yang belum miliki MCK.


"Di Asemrowo itu masih ada MCK yang langsung dibangun dekat sungai. Tanpa ada septic tank, itu justru akan merusak lingkungan," ujar Habiba.


Terkait ini, pihaknya akan mencoba komunikasi dengan Pemkot Surabaya untuk membuat mapping kawasan yang masih belum memiliki jamban. Sehingga ada program pembenahan yang sistematis dan warganya secara terpadu bisa mengatasi masalah sanitasi di lingkungannya. Habiba menyebut program pembenahan itu bisa berdampak besar."Selain untuk kesehatan warga yang tidak punya jamban, juga bisa mengatasi masalah lingkungan sungai bagi yang masih menggunakan jamban langsung ke sungai," pungkasnya. (jar/nur)


Editor : Administrator
#dprd surabaya