SURABAYA – Penelitian yang menyebutkan Pelacur setelah mendapatkan pembinaan mental spiritual selama di tempat rehabilitasi, dapat menyadarkan dan mengentaskan mereka dari pekerjaanya, dipatahkan oleh hasil penelitian Mohammad Suud. Dari hasil penelitian yang dia lakukan, justru pengetahuan religiositas yang mereka dapatkan selama di tempat itu akan meringankan beban mental mereka, sehingga mereka bisa melakukan pekerjaannya secara berkelanjutan. Tidak heran jika ada pelacur sampai tua masih menjalani pekerjaannya. Dari pengalaman spiritualitas yang mereka jalani, semakin menambah keyakinan mereka bahwa Tuhan akan mengasihinya dan memberi ampun atas dosa-dosa dari amal baiknya.
Hal ini tertuang dalam Disertasi berjudul Pengalaman Spiritualitas Pelacur Jalanan, (Suatu Studi Etnografi di Kota Surabaya) yang ditulis Mohammad Suud untuk memperoleh gelar Doktor. Ujian berlangsug di ruang Adi Sukadana Kampus B, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unair Jalan Darmawangsa Surabaya, Jumat (28/7).
Di sela-sela ujian, Suud menjelaskan bahwa dari hasil penelitiannya, pelacur dalam memulai pekerjaannya juga menyebut nama Tuhan dan mempunyai kepedulian terhadap sesama dalam bekerja. Dorongan spiritual akan menjadi pengalaman spiritualitas mereka. Untuk itu, kalau pemerintah mau merehabilitasi mereka dengan cara yang tidak tepat dalam membina mental mereka, tidak menutup kemungkinan justru mereka akan semakin paham dalam menjalankan dunia pelacuran dengan berbekal pengalaman spiritualitasnya itu.
Oleh karena itu, menurut Suud pengalaman spiritualitas mereka harus dibongkar, dan diluruskan kembali kesadaran spiritualnya. Pendekatan Rukiyah bisa dilakukan dalam menyadarkan mereka. Mindset pemerintah dan masyarakat harus berubah, membantu bukan memaksa mereka untuk keluar dari pekerjaannya sebagai pelacur.“Pemahaman bahwa pekerjaan yang ia lakoni itu dosa, kalau dosa masuk neraka dan ada siksa, itu tidak membuat mereka takut,” kata Suud yang juga Dosen Fisip Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) ini.
Untuk menyelesaiakan Disertasi ini Suud malakukan penelitian selama dua tahun terhadap pelacur jalanan yang biasa mangkal di beberapa sudut kota Surabaya. Disertasi setebal 4.5 cm dan berat 21 kg ini berhasil dia pertahankan di hadapan sepuluh dewan penyanggah dalam ujian doktor terbuka. Suud dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude dengan nilai 3,88. Dia merupakan Doktor ke 198 di Ilmu Sosial Unair.
Ada yang menarik dalam diri Suud, selama menempuh pendidikan Doktor yang dimulai pada 2012. Dia membiarkan rambutnya panjang hingga sebahu dan ini merupakan nadar tidak mau memotong rambutnya hingga dinyatakan lulus. Rambut panjang ini juga sebagai strategi penelitian etnografi supaya diterima di lingkungan prostisusi. “Menempuh pendidikan Doktor itu penderitaan, ”kata Suud.
“Setelah ini, Agustus saya akan seperti Bapak ini. Cari hari baik,” sambungnya sambil menunjuk Prof Bagong Suyanto berambut cepak disampingnya yang juga sebagai ko promotornya bersama Prof Ida Bagus Wirawan sebagai promotornya.
Sementara itu Prof Soedarso Djojonegoro salah satu dewan penyanggah sekaligus Ketua Dewan Pembina Yayasan Wijaya Kusuma menyatakan, dengan diraihnya gelar Doktor ini akan meningkatkan Sumber Daya Manusia di UWKS. Dia berharap Doktor keempat di Fisip UWKS ini segera menjadi Guru Besar, sehingga akan meningkatkan akrediatsi UWKS. “Mudah-mudahan dua tahun lagi bisa,” jawab Suud.
Editor : Administrator