RADAR SURABAYA - Usia pernikahan Karin, 42, dan Donwori, 48, sebenarnya sudah cukup panjang. Dengan masa pernikahan mencapai dua dekade, semestinya keduanya telah melewati fase kematangan dan kemapanan dalam rumah tangga.
Namun, realitas berkata lain. Sepanjang hampir 20 tahun pernikahan, pasangan ini justru diwarnai konflik dan prahara yang tak kunjung usai.
Karin dan Donwori menikah pada Februari 1999 di Surabaya, dan kemudian tinggal bersama orang tua Donwori di kawasan Dukuh Pakis. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai empat orang anak. Awalnya, rumah tangga mereka berjalan harmonis, seperti kisah dalam dongeng. Namun, keharmonisan itu mulai retak pada pertengahan 2002, ketika percekcokan mulai sering terjadi.
Masalah bermula ketika Karin kerap menegur Donwori yang sering pulang larut malam melewati jam kerja. Namun, bukannya memberi penjelasan, Donwori justru secara terang-terangan mengakui bahwa ia berselingkuh. Dengan siapa? Dengan rekan kerja wanitanya di pabrik. Pengakuan ini membuat Karin marah besar.
Tak hanya berselingkuh, Donwori juga melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terhadap Karin. “Saat itu, saya sempat dipukul, dicekik, dan ditampar,” ungkap Karin di Pengadilan Agama Surabaya.
Meskipun sempat didamaikan, pertengkaran tak kunjung reda. Orang tua Donwori yang selalu membela anaknya setiap kali berbuat salah membuat Karin semakin tertekan. Ia pun memutuskan meninggalkan Donwori dan kembali ke rumah orang tuanya di Sidoarjo.
Enam bulan berselang, keduanya memutuskan rujuk. Donwori berjanji akan berubah, dan Karin luluh demi anak-anak yang masih kecil dan membutuhkannya. Namun, perdamaian itu tak bertahan lama.
Pada 2015, Karin kembali dibuat kecewa setelah menemukan struk transfer uang dari dompet Donwori kepada seorang wanita. Ia juga menemukan pesan-pesan mesra yang dikirim Donwori kepada wanita tersebut. “Kami bertengkar hebat waktu itu, tapi lagi-lagi bisa didamaikan,” kenang Karin.
Puncak kesabaran Karin terjadi pada 2020. Donwori menuduhnya berutang tanpa izin, tuduhan yang langsung dibantah Karin. Justru sebaliknya, Karin-lah yang selama ini menutupi utang-utang Donwori di toko bangunan. “Karyawan tokonya nagih langsung ke saya. Mau tidak mau, saya yang harus bayar,” ucap Karin dengan nada kesal.
Sejak saat itu, Karin memutuskan untuk berpisah rumah. Ia membawa keempat anaknya pindah ke sebuah kontrakan di Surabaya.
“Lebih baik seperti ini, daripada terus-menerus sakit hati,” tutup Karin. (*/vga)
Editor : Vega Dwi Arista