Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) memang nyata dan banyak macamnya. Paling anyar adalah kasus selebgram Cut Intan Nabila yang kuat lima tahun di-KDRT suaminya, Armor Toreador.
TIM Wartawan Radar Surabaya
Kehidupan rumah tangga yang jauh dari rasa aman harus dialami Karin, 39.Baca Juga: SEJARAH Hotel Flores Surabaya Milik Letnan Moch Achijat, Pengelolaan dan Manajemen Hotel Melibatkan Keluarga
Siapa sangka Donwori, 30, laki-laki yang sudah ia pacari selama dua tahun dan kemudian menjadi suaminya ini memiliki kelainan mental.
Ada yang eror dalam jiwanya yang membuatnya tidak bahagia jika sehari saja tak menyiksa Karin.
Hari-hari Karin selalu diwarnai dengan siksaan. Tamparan, tendangan, bogem adalah makanan sehari-harinya.
Bahkan suaminya ini tak akan segan untuk menjambak rambut Karin hingga membenturkannya ke lantai, sudah biasa, dan dilakukan dengan ringan tangan.
“Badanku tidak pernah bersih, lihat sana sini ada memar dan biru bekas siksaan,” katanya sambil menunjukkan luka di tangannya saat berada di ruang tunggu Pengadilan Agama (PA) Kelas 1A Surabaya.
Sebenarnya, pemicu sikap kasar Donwori ini adalah hal remeh temeh.
Donwori yang merupakan laki-laki perfeksionis tak terima kalau masakan istri tidak enak, rumah dalam keadaan kotor.
Bahkan jika tidak ada yang bisa dipersalahkan, Donwori ini selalu mencari-cari alasan agar bisa menyiksa Karin.
“Aku disiksa, digoblok-goblokne gara-gara panciku item, lak yo wajar digawe masak setiap hari item, pas semua rumah bersih dan gak ada yang jadi sasaran amukan, dia ngecek pigora dan ada debune, wes tamat riwayatku,” keluhnya.
Perempuan yang tampak kurus kering ini juga sempat flashback, saat keduanya masih sama-sama kuliah.
Donwori juga tak segan menghajarnya gara-gara nilainya yang kalah jauh disbanding Karin.
Selain tak terima, Donwori juga menyalahkan Karin. Alasannya sangat klise,
Donwori merasa lebih bodoh dan iri dengan pencapaian Karin.
Marahnya, kenapa sebagai istri ia tak mau mengajari suami.
“Aku masih ingat betul, sampai di rumah rambutku ditarik dan kepalaku dibentur-benturkan,” imbuhnya sedih.
Namun ada yang aneh dari perilaku anarkis suaminya ini. Setelah puas menyiksa, Donwori ini selalu mengajak Karin untuk berhubungan badan.
Hal yang sebaliknya pun kerap terjadi. Ketika keduanya sedang bermesra-mesraan, tiba-tiba raut muka suaminya ini berubah.
Tanpa aba-aba Donwori kerap menjambak rambut Karin setelah membelainya mesra.
Perilaku-perilaku aneh ini menguatkan asumsi Karin kalau memang ada yang aneh di otak suaminya.
Diperlakukan setiap hari seperti itu, Karin tak pernah bahagia di rumah. Semakin hari Karin semakin kurus dan kurus.
Bahkan beberapa bulan belakangan, Karin lebih nyaman untuk tidur di kamar mandi karena hanya di sanalah ia merasa aman.
Di sana ia bisa menghabiskan berjam-jam untuk menangis dan mengadu pada kawannya lewat telepon.
“Bahkan aku di rumah itu ya dikurung, gak bisa keluar ke mana-mana. Hape juga dia yang bawa,” kata perempuan yang tinggal di kawasan Manukan ini.
Karena tak lagi tahan dengan suaminya, Karin memutuskan untuk kabur dari rumah.
Saat suaminya sedang bekerja, ia kemasi barang-barang dan kembali kepada orang tuanya.
Ia terpaksa, cintanya sudah hilang lama seiring perlakuan kasar suaminya.
Ia takut jika terus-terusan bersama, akan terjadi tragedi yang lebih huruk.
"Aku melakukan ini semata-mata biar anakku selamat Mbak," pungkas ibu satu putri itu. (*/opi)
Editor : Nofilawati Anisa