Memiliki pasangan yang sama-sama bekerja rupanya tak seindah bayangan. Apalagi jika pasangan kerap tak pulang, bisa-bisa memicu perceraian.
TIM Wartawan Radar Surabaya
Punya ekonomi yang matang rupanya tak menjamin langgeng dengan pasangan. Karin, 40, dan Donwori, 40, ini contohnya.
Secara ekonomi, Karin mapan. Menjabat sebagai kepala cabang perusahaan, dengan sejumlah tunjangan kesejahteraan.
Donwori, juga mapan. Ditunjuk sebagai komisaris perusahan hingga kerap jarang pulang.
Maklum, Karin harus tinggal di Malang karena jabatannya.
Sementara Donwori, harus tinggal di luar pulau Jawa juga karena jabatannya.
"Awalnya kita sepakan, setiap dua pekan sekali pulang ke Surabaya. Kan ada anak-anak disana, ya untuk keluarga lah," ujar Karin memulai ceritanya.
Namun baru berjalan satu tahun, kesibukan Donwori kian tak terbendung.
Donwori tak bisa jika harus pulang dua pekan sekali.
Katanya urusannya banyak, pekerjaannya menumpuk. Bisanya, hanya pulang sebulan sekali.
"Ya sebenarnya gak masalah. Tapi realitasnya itu loh, kok malah dua bulan sekali. Ini yang bikin saya kesal. Kasian anak-anak," katanya.
Makin lama, komunikasi Karin dan Donwori makin memudar.
Sekadar angkat HP saja Donwori tak sanggup. Alasannya selalu rapat.
Hal itu kerap memicu pertengkaran hebat. Sempat berunding agar salah satunya mundur dari jabatannya.
Sayang, hal itu tak mendapatkan keputusan. Karin dan Donwori sama-sama tak mau mengalah.
Puncaknya Karin memilih pisah. Katanya sudah enggak ada jalan keluar hingga curiga Donwori punya selingkuhan.
Karin pun pergi ke Pengadilan Agama (PA) Kelas 1A Surabaya urus gugatan. Gugatan itu justru disetujui Donwori.
"Ya dia juga sepakat pisah. Katanya daripada hilang kerjaan dan jabatan, mending pisah saja," bebernya. (*/opi)
Editor : Nofilawati Anisa