Apakah pasangan yang posesif itu menandakan ia mencintai kita dengan ugal-ugalan? Ternyata belum tentu juga. Sikap posesif bisa menjadi modus untuk menyembunyikan kebusukan hatinya.
TIM Wartawan Radar Surabaya
Dulu, Karin,23, pernah berpikir, andaikan ada perselingkuhan dalam rumah tangganya, sudah pasti dia sendiri pelakunya. Tak mungkin Donwori,26, yang posesifnya luar biasa. Karena pikirnya, posesif tanda pasangan mencintai kita lebih banyak.
Namun rupanya tidak saudara-saudara. Si posesif Donwori, nyatanya bisa berpindah ke lain hati. Dan mengkhianati hubungan pernikahannya.
Cerita ini disampaikan oleh Karin sendiri, saat berada di ruang tunggu Pengadilan Agama (PA) Kelas 1A Surabaya.
Saat itu, ia tengah duduk menatap layar handphonenya hingga kemudian membuka pembicaraan dengan Radar Surabaya, yang kebetulan duduk di sebelahnya.
"Cerai karena apa Mbak?" Pertanyaan Karin yang ditujukan ke Radar Surabaya memecah keheningan di ruang tunggu yang kala itu sudah mulai sepi. Maklum, sudah lewat pukul 13.00.
Rupanya Karin cukup terbuka orangnya. Ia berbicara banyak, tentang backgroundnya, pekerjaan, juga penyebab perceraiannya.
"Saya cerai karena ditinggal selingkuh sama suami, Mbak. Suami kabur tak pulang-pulang, malah tinggal sama perempuan lain sekarang," begitu curhatnya.
Perselingkuhan suaminya ini, jelas Karin, adalah satu hal yang tak pernah terpikir di pikirannya.
Tak pernah ia sangka sebelumnya. Karena Donwori adalah tipikal laki-laki pencemburu. Sejak zaman pacaran hingga menikah sudah jalan empat tahun.
Donwori akan sangat cemburu hanya dengan melihat Karin ngobrol basa-basi dengan kawan lama yang kebetulan papasan di jalan.
Baca Juga: Kampus Negeri di Surabaya Pilih Tidak Menaikkan UKT, Ini Pertimbangannya
Donwori tidak akan merhenti miss call jika Karin tak cepat membalas chat-nya. Diikuti serangkaian tuduhan apakah Karin sedang kencan dengan pria lain.
Donwori juga akan cemburu buta jika setengah jam saja Karin terlambat pulang kerja. Donwori selalu menskrining handphone Karin setiap malam.
Mencoba menemukan chat lawan jenis di sana. Bahkan saudara jauh Karin tak lepas dari sasaran kecemburuan Donwori.
Namun apakah Karin kesal dicemburui? Jawabannya tidak sama sekali. Karena ia malah bangga saudara-saudara. Karena pikirnya, berarti Donwori cinta mati sama dirinya. Makanya sampai seposesif itu.
"Apalagi Mas Wori juga pendiam. Yang saya tahu teman perempuannya sedikit. Saya yang lebih sosial orangnya, makanya saya mikir kalaulah ada perselingkuhan di rumah tangga saya, pasti saya pelakunya," lanjutnya.
Namun ternyata oh ternyata, kenapa dugaannya meleset. Suami yang Karin percayai cintanya, rupanya bisa juga selingkuh.
Perselingkuhan Donwori, ujar Karin, ia ketahui baru-baru saja. Tepatnya setelah Karin mendorong Donwori untuk merantau mencari pekerjaan yang lebih layak gajinya. Namun bukannya kemapanan hidup yang ia dapat, Donwori malah tak pulang.
Tak lama setelah Karin dan Donwori LDR-an, perselingkuhan itu terjadi.
Ketahuannya biasa. Donwori yang awalnya normal-normal saja masih menelepon lima kali bahkan lebih sehari, mulai jarang merespons teleponnya. Bahkan bisa betah berminggu tak ada kabar.
Karin yang masih percaya suaminya setia kala itu nekat menyusul. Mungkin suaminya sedang kesulitan atau apa.
Eh, rupanya dugaannya salah. Di rumah kontrakan yang ditinggali Donwori, ada seorang perempuan berwajah sinis menyambutnya. Rupanya Donwori tak mampu menahan godaan LDR. Atau, mungkin ada alasan lain? Entahlah.
"Bukannya merasa bersalah. Waktu itu Mas Wori hanya bilang ayo cerai saja. Dia sudah ketemu perempuan lain. Pas saya tanya alasannya, katanya si pasangan barunya ini lebih menerimanya apa adanya," tukas Karin dengan wajah yang makin kelabu. (*/opi)
Editor : Jay Wijayanto