Pelabuhan Kalimas, ini menjadi tempat sandaran kapal dulu sekitar awal abad 19. Kapal-kapal ini bersandar di sekitar Syahbandar di wilayah Pabean Cantikan.
Guntur Irianto-Wartawan Radar Surabaya
Perdagangan kala itu diatur oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) sedemikian rupa. Kantor kepabeanan atau Syahbandar ini dibangun pula untuk mengawasi perdagangan kala itu.
VOC melihat Surabaya memiliki potensi yang besar terhadap perekonomian kala itu.
Banyak kapal dari pedagang Tiongkok hingga Timur Tengah yang datang ke Surabaya ini.
Kapal-kapal tersebut datang untuk menjual barang atau menukarkannya dengan berbagai hasil bumi di Indonesia.
Potensi besar ini dilihat VOC sebagai sebuah peluang. Apalagi, tujuan utamanya ke Indonesia memang untuk menguasai perdagangan rempah.
Ia juga menemukan fakta jika tidak hanya rempah saja, namun hasil perkebunan juga diperdagangkan di sana.
Tidak hanya dari wilayah Jawa Timur saja.
Ini membuat VOC semakin yakin membangun benteng dan mulai menjalankan praktek dagang di Surabaya. Monopoli perdagangan rempah mulai dijalankan.
"Saat itu kapal masuk ke Sungai Kalimas. Mereka bersandar di syahbandar yang terletak di sisi barat Pasar Pabean dan berbatasan langsung dengan sungai," jelasnya kepada Radar Surabaya.
Pembangunan benteng di sisi barat sungai juga untuk mengawasi apabila ada gangguan dari bangsa asing yang datang.
"Potensi pelabuhan di Surabaya ini menarik bagi VOC dan dinilai sangat menguntungkan kala itu. Rempah menjadi komoditas utama," ungkapnya. (bersambung/nur)
Editor : Jay Wijayanto