Ketika minta izin berpoligami, Donjuan, 49, janji bakal berlaku adil. Enak sini, enak sana; bubuk sini, bubuk sana; prihatin sini, ya prihatin sana. Pokoknya fifty-fifty.
TIM Wartawan Radar Surabaya
Mendengar janji itu diucapkan seorang ustad, si istri pertama, Karin, 42, tak bisa berkutik. Ia memberi izin ketika Donjuan menikahi Sephia, 39, tetangga satu RT yang seorang janda. Sephia dinikahi seacara agama alias siri.
Sementara Karin tetap menjadi istri sah yang tercatat di KUA. “Ini bentuk ibadah. Istri harus nurut sama suami kalau nggak ingin dosa besar,” ungkapnya.
Tapi, fakta seringkali beda dari teori. Kenyataan yang paling pahit adalah hasil kerja keras Karin sebagai produsen es dan roti diberikan kepada Sephia, madunya. Yang tak lain adalah istri kedua Donjuan.
Bahkan enam bulan lalu, Karin menemukan sertifikat rumah yang dibeli Donjuan diatasnamakan anak Sephia dengan suami sebelumnya.
Lantaran sudah tidak betah dengan sikap Donjuan yang berat sebelah: enak di sana, sengsara di sini, Karin memilih mengajukan gugatan cerai di Pengadilan Agama (PA) Kelas IA Surabaya.
Dari wajahnya, Karin terlihat sebagai wanita penyabar dan kalem. Bisanya cuma inggah-inggih dan tersenyum. Namun kepada Radar Surabaya, ia mengaku kehadirannya ke PA ini adalah titik didih emosinya yang terpendam. Karin bosan diperlakukan semena-mena oleh sang suami.
Diterangkan, selama 15 tahun berpoligami, dialah yang jadi tulang punggung keluarga. Donjuan berprofesi sebagai ustad kampung yang hanya mengharapkan sedekah dari mengajar ngaji dan ceramah-ceramah. Itu pun hanya di seputar tempat tinggalnya di kawasan Bubutan, Surabaya.
Kendati demikian, Karin tak pernah komplain dan marah. Sebab, dia merasa semua perjuangannya itu adalah bagian dari ibadah. Tapi, lambat laun Karin merasa dikhianati dan diperalat.
Dia diperalat untuk mencari nafkah, sedangkan Sephia diperalat untuk memuaskan hawa nafsu. “Kelihatannya memang adil, tapi adil yang bubrah. Ya itu tadi, enak di sana, nelongso di aku,”’ tandasnya, ketus.
Dicontohkan, Donjuan sering mengambil uang hasil bisnisnya dan dibawa ke rumah Sephia yang berada di kawasan Kapasan Surabaya.
Padahal, uang hasil tersebut untuk jatah sekolah anak-anaknya. Bukan hanya uang hasil bisnis Karin, Donjuan juga sering membawa barang atau makanan di rumah Karin.
“Perabot seperti televisi dan buffet serta bahan makanan seperti beras diangkuti semua. Tapi Alhamdulillah, meski uang dan barang-barang saya sering dicuri, anak saya masih bisa sekolah,” katanya berbangga.
Kini, karena anak sudah hampir lulus kuliah, bahkan sudah dapat pekerjaan, Karin berniat menyudahi pernikahan yang membelenggu hatinya itu. Karin ingin menyerahkan status istri sah pada Sephia.
“Saya tidak ingin terus memendam sakit hati dan dendam. Mulai sekarang saya ingin hidup bahagia bersama anak saja,” pungkas Karin. (*/opi)
Editor : Jay Wijayanto