Jangan pernah menuntut nafkah lebih dari kemampuan pasangan. Sebab jika dipaksakan, siap-siaplah bertengkar dan rumah tangga buyar.
TIM Wartawan Radar Surabaya
Hari-hari Donwori, 43, penuh dengan perjuangan. Bekerja siang malam pun terus dilakukan. Terkadang rela tak pulang demi mencari nafkah buat Karin, 40, dan sang putri kesayangan. Hal itu dilakukan demi keluarga tersayang.
Maklum, sejak menikahi Karin, Donwori harus kerja keras. Sebab Karin tak mau jika jatah bulanannya pas-pasan. Seperti upah buruh pabrikan, nafkah untuk keluarga juga minta dinaikkan setiap tahunnya. Jika tidak, Karin bisa mencak-mencak.
"Sudah tahunan Mas saya banting tulang. Pokoknya dia selalu minta nafkah lebih terus. Iya sejak menikah sudah langsung ngegas minta lebih," ujar Donwori bercerita.
Namun, 15 tahun banting tulang, Donwori merasa sudah tak sanggup berjuang. Apalagi usianya yang sudah menginjak kepala empat, membuatnya kerap sakit-sakitan. Sayang, Karin seolah tak mau tahu menahu tentang keadaan.
"Tetap minta naik terus Mas. Mana bisa kerja naik setiap tahun. Dikasih Rp 4 juta sebulan, eh minta Rp 5 juta. Lha gaji saya kan cuman sebatas UMK. Saya kan juga butuh biaya transport, beli pulsa dan ngopi. Uang dari mana? Gaji saja enggak setiap tahun naik," imbuhnya.
Puncaknya, tahun lalu rumah tangga Donwori pun mulai goyah. Percekcokan soal jatah bulanan makin sering terjadi.
Karin juga makin garang karena nafkah mulai pas-pasan. Katanya tak bisa buat apa-apa. Sejak saat itu, Karin kerap pergi keluar rumah tanpa alasan yang jelas. Jika ditegor, Karin kerap melawan.
"Sudah enggak taat lagi Mas. Sejak saat itu, sudah pisah rumah. Saya sudah enggak bisa berharap lagi mas," paparnya sedih.
Akhirnya Donwori memutuskan pergi ke Pengadilan Agama (PA) Kelas 1A Surabaya. Mendaftarkan gugatan untuk Karin yang sudah pisah ranjang. Beruntung gugatan Donwori dikabulkan meski Karin tak pernah datang ke persidangan. "Verstek Mas. Ini jalan keluar. Harapan saya hanya satu, anak saya semata wayang," jelasnya. (*/opi)
Editor : Jay Wijayanto