Menikahlah dengan mereka yang sefrekuensi. Ya sefrekuensi hartanya, ya cintanya, ya casing-nya. Supaya di kemudian hari ketimpangan tidak menjadi bencana.
TIM Wartawan Radar Surabaya
Cerita kali ini datang dari Karin, 28. Perempuan cantik dengan dagu lancip. Boleh dikatakan, tanpa pakai susuk pun, Karin sudah terlihat menarik.
Karin menggugat cerai Donwori, 33, suaminya, lantaran kesal kepada mboke alias mertuanya. Masalahnya, emake Donwori ini benci setengah mati dengan Karin. Bahkan sejak sebelum menikah. Hanya saja, akhirnya ia merelakan Karin dan Donwori menikah, juga lantaran ‘kecelakaan’ duluan.
Gara-gara ini, bukannya si mertua makin luluh tapi justru kian membenci Karin. "Saya dituduh merayu. Mengelabuhi Donwori agar mau berhubungan badan dan hamil. Biar saya bisa masuk di keluarganya," cerita Karin, beberapa waktu lalu, di Pengadilan Agama (PA) Kelas 1A Surabaya.
Padahal kalau Karin membela diri, Donwori lah yang duluan menggodanya hingga ‘kecelakaan’ itu terjadi. Kasarannya ngomong, Donwori yang ganjen. Namun, pembelaan diri itu tak pernah Karin sampaikan karena pikirnya, percuma saja. Harga diri mertuanya terlalu tinggi untuk mempercayai omongan mantunya.
Parahnya, tuduhan tanpa bukti ini disampaikan juga ke kerabat dekat Donwori. Sehingga membuat pandangan mereka ke Karin rata-rata sama. Pandangan kotor dan merendahkan.
Sadar tidak disukai, setelah sah Karin langsung mengajak Donwori mengontrak rumah. Tak jauh, masih satu komplek dengan rumah mertua. Harapannya biar bisa bergerak leluasa. Namun, pada akhirnya Karin jugalah yang disalahkan. Katanya, Karin memberikan pengaruh buruk ke Donwori. Menjauhkan anak dari orang tua.
Sudah tenang dan damai hidup berdua saja, mertua Karin masih ikut campur. Kali ini, si mertua tak terima kalau anaknya kerja lembur siang dan malam. Lebih tepatnya, tidak terima anaknya disuruh jadi driver ojek online alias ojol. Tidak bergengsi, katanya.
"Aku ini cuma mau mecut suami. Menyemangati biar giat bekerja. Persiapan buat punya anak. Kalau mengandalkan kerja pabriknya, shift-shift-an. Seminggu masuk cuma tiga kali, ya apa nasib saya dan anak nanti," keluh Karin.
Bahkan, sikap tak terima ini diiringi tuduhan kalau Karin memeras tenaga Donwori demi memenuhi kebutuhan glamor, seperti men-supply perabot rumah tangga, make up, dan juga perhiasan. Yang notabene semua perabot rumah adalah uang patungan berdua. Dan perhiasan, sudah dibeli Karin saat gadis dulu.
Segala macam omongan tidak enak, selama ini berusaha Karin tahan-tahan. Dari awal sampai anaknya mbrojol. Ia mencoba mengalah.
Suatu ketika, Karin ingin kembali bekerja. Ya, ia bukanlah tipikal perempuan yang hanya ingin menggantungkan diri ke suami dan tidak mungkin juga. Wong gaji Donwori apa adanya. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali bekerja kala itu. Ia berniat menitipkan anak ke daycare, tempat penitipan anak.
Tapi, ketika itu si mama mertua melarang. Mira, si mertua, malah menawarkan jasa merawat anak Karin secara cuma-cuma. Ikrarnya di awal. Namun setelah waktu berjalan, omongan tidak enak kembali ia dengar. Katanya, Karin tak peka. Meminta mertua yang sudah renta merawat bayi yang nakal, tapi tidak diberi imbalan oleh Karin. Sampai sini, pusing Karin. Kok bisa mertua lain dulu lain sekarang mulutnya. Apa sudah pikun?
Berkali-kali ditahan, omongan tidak enak itu terus saja dilontarkan. Hingga pada suatu masa Karin yang kesal akhirnya meminta agar anaknya dititipkan saja. Keputusan Karin ini, sama artinya menabuh gendera perang. Orang tua Karin yang tak terima makin bersikap membabi buta.
Sang mertua makin tak bisa diam. Setiap hari datang ke rumah. Berkedok nengok cucu, namun prakteknya mengkritik ini dan itu. Menyindir Karin gak punya naluri keibuan, sudah ninggal anak kerja. Membandingkannya yang hanya di rumah mengurus anak dan suami. "Aku iku kerja mumpung masih muda. Nanti lek hidup udah enak kaya bapak ibu mertua juga berhenti juga. Tapi gak ngerti ibuk itu," lanjut Karin.
Kesabaran Karin, akhirnya habis manakala rumor kalau ia punya simpanan lain tersebar di lingkungannya. Penyebarnya tak lain ya mertua sendiri. Tuduhan itu juga datang dari kecurigaan saja, perihal Karin sering pulang larut sampai sering diantar jemput teman. Yang Karin akui hanya teman.
Tak terima disalah-salahkan terus menerus, ia meminta cerai. Namun begitu, mertua Karin masih juga cari gara-gara. Mira meminta Donwori mengambil hak asuh atas anaknya. Yang nantinya akan dirawat si mertua. Alasannya, Karin dituduh kurang tanggung jawab jadi ibu karena punya anak ditinggali kerja. Hmmm ikut kesal juga ya.
Di akhir, Karin menduga, ketidaksukaan mertuanya ini gara-gara mama mertuanya merasa lebih kaya dibanding orang tua Karin. Makanya ia tidak suka mantu yang tidak seimbang. "Padahal kalau itung-itungan kekayaan, sebenarnya kaya orang tua saya. Meski tidak ditunjukkan hidup kami enak. Sana mentereng saja padahal utangnya banyak," pungkas Karin, kesal. (*/opi)
Editor : Jay Wijayanto