Mertua yang pengertian dan ngemong mantunya, ada banyak. Namun, mertua yang sama mantunya kayak musuh, lebih banyak lagi.
Wartawan Radar Surabaya
Baru dua tahu menikah, Karin sudah tak betah membina rumah tangga dengan Donwori.
Selain sudah geregetan dengan suaminya yang sekian lama menganggur dan tetap woles, ia juga tambah suntuk dengan perselisihan tiada akhir antara orang tuanya dan orang tua Donwori.
“Masalahku sama Mas Wori aja sudah bikin stres, eh mereka nambah-nambahi,” katanya saat berada di ruang konsultasi pengacara dekat Pengadilan Agama (PA) Kelas 1A Surabaya.
Bagaimana Karin bisa tenang, selama dua tahun menikah, suaminya ini pengangguran kelas dewa. Sudah punya tanggungan istri, tak ada sedikit pun keinginan Donwori dapat pekerjaan yang layak. Yang bisa menghidupi istrinya.
Kerjaan laki-laki 26 tahun itu cuma kluntrang-kluntrung mengandalkan uang hasil kos-kosan yang masih harus dia bagi dengan ibunya.
Karin menjelaskan, sudah tak bosan-bosan ia mendorong suaminya untuk lebih giat. Namun, nasehat Karin sampai berbusa-busa ini masuk kuping kanan keluar kuping kiri, alias tak digubris.
Tak bosan-bosan Karin ngamuk pada suaminya berharap Donwori sadar. Namun hasilnya tetap nihil.
Nganggurnya Donwori ini tentu saja membuat risih setiap mata yang memandang, tak terkecuali orang tua Karin.
Saat berkunjung, tak kurang-kurang orang tua Karin menasehati Donwori untuk lebih giat sebagai suami. Namun Donwori hanya nggah-nggeh gak kepanggih.
“Bapak ibukku ya, meski kecewa, mereka menasehati dengan cara halus. Gak pernah nyinggung,” lanjut perempuan 25 tahun itu.
Lain cerita dengan orang tua Donwori. Karin yang tinggal di rumah mertua ini kerap disia-sia hidupnya. Karin kerap jadi sasaran amukan tidak jelas mertuanya gara-gara hal sepele.
Sebagai manten anyar istilahnya, Karin kerap dimaki ketika masakannya kurang enak. Ketika terlihat sedikit menganggur padahal juga banyak kerjanya, Karin juga dirasani.
Hati Karin tak pernah bahagia. Meski mertuanya tak pernah menyiksanya secara fisik, ia selalu disiksa mentalnya.
Tak jarang Karin dibanding-bandingkan dengan mantunya yang lain. Tanpa sepengetahuan suaminya juga, mertuanya ini sering mengatakan kalau ia menyesal telah menikahkannya dengan Donwori.
“Aku dikata istri ngelunjak, sama suami marah-marah terus. Ya memang anaknya dimarahi saja kebal begitu, apalagi dibiarkan,” keluh perempuan berbadan dempal ini.
Sikap semena-mena ini terjadi lama, tanpa sepengetahuan Donwori dan juga orang tuanya.
Hingga suatu saat ibunda Karin mengetahuinya tanpa sengaja. Hal itu terjadi saat ibunda Karin tiba-tiba berkunjung ke rumah besan.
Saat itu, pas sekali Karin kena semprot gara-gara lupa tak mematikan kompor. Tak terima anaknya dimaki, ibu Karin ini angkat bicara.
Akhirnya perang dunia ketiga pun pecah. Blok baratnya adalah ibu Karin dengan membawa senjata kemalasan Donwori. Sementara blok timurnya adalah emak Donwori yang tak terima anaknya disalahkan.
Si mertua perempuan bahkan mengatakan kalau Karin ini adalah istri tak tahu diri yang menyusahkan anaknya.
Karena perang yang terjadi tiba-tiba ini, banyak warga yang berkumpul karena penasaran.
‘Duel’ antara emak-emak ini pun jadi tontonan sampai datang ketua RT yang melerai. Setelah perang usai, perang dingin juga tak bisa terelakkan. Karin akhirnya diboyong orang tua pulang.
Berminggu-minggu kabur dari rumah, rupanya, tak ada inisiatif Donwori untuk membujuk Karin pulang atau meminta maaf. Bahkan sebuah pesan pun tak pernah datang. Namun bagi Karin ini adalah kesempatan.
"Wes wayahe cerai, buat apa punya suami pengangguran dengan mertua yang kalau ngamuk kayak setan begitu,” pungkas perempuan yang tinggal di kawasan Pucang Anom ini kesal. (*/opi)
Editor : Jay Wijayanto