Meskipun belum ada bukti jika sang istri punya hubungan khusus dengan sahabatnya, si suami sudah terlanjur cemburu dan sakit hati. Sampai akhirnya, pria yang bekerja di perusahaan ekspedisi itu rela mengajukan talak cerai saat istrinya hamil tujuh bulan.
TIM Wartawan Radar Surabaya
Sekitar 2,5 bulan lagi Karin, 29, bakal melahirkan anak pertamanya. Sayangnya, sang suami, Donwori, 30, tak mau menemani di bulan-bulan terakhir kontrol ke dokter.
Donwori malah bersikap sebaliknya. Menuding anak yang dikandung Karin itu adalah janin hasil selingkuh dengan Donjuan, sahabat karib istrinya.
“Segendeng-gendengnya, aku enggak mungkin nekat gitu sama sahabatku sendiri. Apalagi ini sahabatku dari kecil. Aku belum kenal sama suami, sudah kenal dan baik duluan dengan sahabatku ini. Bahkan, aku sudah dianggap anak oleh keluarganya. Biar nanti kalau sudah lahir tak tes DNA. Nyesel yo wis," keluh Karin ditemui di sebuah kantor pengacara, belum lama ini.
Bersama kakaknya, Karin mengaku sudah cukup sakit hati dengan tudingan suaminya kalau anaknya adalah hasil perselingkuhan bersama Donjuan.
Diakuinya, selama ini ia memang dekat dengan Donjuan ketimbang suaminya sendiri. Hal itu karena Donwori memang lebih cuek dan jarang sekali perhatian dengannya.
Di awal-awal kehamilan muda Karin, Donwori yang bersikap cuek seringkali meninggalkan istrinya itu sendirian.
"Hamil anak pertama ya sangat berharap bisa manja-manjaan sama suami. Tapi, ya itu dicuekin terus. Ya untung ada sahabatku ini. Nyidam martabak, eh yang beliin malah sahabatku ini. Bukan bapaknya si jabang bayi," jelasnya.
Warga Kelurahan Medokan itu pun menyatakan kalau selama hamil, kebutuhan kasih sayang dari sosok suaminya justru tak banyak ia dapatkan.
Karin lebih banyak dimanjakaan oleh keluarga besarnya, teman-temannya, tetangga dan si Donjuan itu. "Dia (Donwori, Red) itu sibuk kerja. Katanya, nyari duit buat biaya lahiran," jelas Karin.
Perhatian Donwori terhadapnya di awal-awal pernikahan, memang luar biasa. Membuat Karin klepek-klepek.Tapi, hal itu mulai luntur ketika Karin hamil.
Menurut Karin, jika memang suaminya emoh mengakui anaknya, ia pasrah dan tidak akan protes.
“Aku sudah mau lahiran, Mas. Gak mau mikir yang berat-berat. Takut nanti malah ada apa-apa. Perceraian ini yang banyak ngurusi malah kakak-kakakku. Wis tak gawe santai aja,” pungkas Karin. (*/opi)
Editor : Jay Wijayanto