Kalau kata pepatah Inggris, live must go on. Sehancur apa pun perasaan setelah bercerai, perut tetap harus terisi. Popok anak tetap harus terbeli.
TIM Wartawan Radar Surabaya
Karin menggugat cerai Donwori jauh sebelum Lebaran kemarin. Dari alasan yang disampaikan, perempuan 27 tahun itu mengaku tak tahan dengan sikap Donwori, 31, yang keras. Apalagi ketika berbagi tugas rumah tangga bersama. Perlu diketahui sebelumnya, Donwori dan Karin adalah pasangan penjual bakso.
Namun Donwori yakin, istrinya menggugat cerai karena punya alasan lain. Yang tak lain tak bukan karena kecantol dengan pria lain. Kecurigaan Donwori cukup beralasan. Karena dua minggu saja setelah bercerai, Karin sudah gandengan dengan laki-laki baru. Sebut saja nama laki-laki itu Donjuan, 35.
Karin dan Donjuan bahkan akhirnya membuka warung bakso baru. Bedebahnya, nama warung yang dipajang di banner pun provokatif, 'Anti Galau'. Seakan Karin pamer kalau ia sudah move on dari Donwori.
Bahkan, bakso yang disajikan pun meniru resep dari Donwori dulu. Dengan rasa yang sama. 100 persen sama, plek keteplek. "Kok aku ngerti, ya aku ngongkon uwong mata-mata. Nuku dagangane," curhat Donwori di Pengadilan Agama (PA) Kelas 1A Surabaya, Senin (31/7).
Bahkan mata-mata yang dikirim Donwori tak cukup satu orang. Tiga orang sekaligus. Ketiganya bahkan bergiliran setiap harinya memantau bisnis bakso Karin. Ada yang datang siang, sore dan malam. Untuk apa? Ya untuk mengecek seberapa enak dan murah bakso buatan Karin, seberapa ramai warungnya, juga seberapa mesra Karin dengan Donjuan.
Namun kembali lagi, resep yang sama inilah yang Donwori permasalahkan. Karena setelah pisah rumah pun, Donwori tetap melanjutkan usaha baksonya. Eh lha sekarang diikuti Karin yang licik (menurutnya). Pakai resep sama, tapi lebih murah. "Yo lek ngunu iso terancam daganganku. Padahal iku ae aku oleh resepe soko berjuang pas joko, melu warung baksoe arek Ngalam," lanjut Donwori.
Wajar juga sebenarnya Donwori khawatir. Karena setelah bercerai, keduanya juga masih tetap menghirup udara di kecamatan yang sama. Sama-sama tinggal di Benowo. Tentu saja makin mudah mengecoh pembeli. Orang-orang pasti berpikir, mau beli bakso di Donwori atau Karin ya sama saja. "Wong saiki ae wes akeh pelangganku sing pindah nak Karin, yo goro-goro luweh murah," imbuhnya sebal.
Namun mau protes ya bagaimana. Nasi sudah menjadi bubur. Warung Karin juga sudah berdiri tegak, bahkan ramai. Meski sakit hati diselingkuhi, dicuri resepnya, Donwori tak mau lagi bikin sensasi dengan ngamuk di warungnya Karin. Atau mengurus hak paten, repot. Donwori emoh rame. Mung iso nggrundel nak mburi. “Aku banting setir, dodol sego bebek. Emoh saingan ambek mantan, haram,” tandas pria berkepala gundul itu. (*/opi)
Editor : Jay Wijayanto