Fajar Yuliyanto - Wartawan Radar Surabaya
Donwori antipati berpacaran dengan wanita asli Surabaya. Ia selalu mencari mangsa gadis-gadis desa yang kemudian ia nikahi saat mereka sudah lulus SMA.
“Saat saya bawa ke Surabaya, mereka masih lugu-lugu gitu. Tapi, pas di Surabaya mereka sudah pandai nggosip sama tetangga sana sini. Eh suwe-suwe mereka selingkuh,” kata Donwori yang mengajukan talak cerai atas Karin di Pengadilan Agama (PA), Klas 1A Surabaya, pekan lalu.
Pria yang bekerja sebagai sopir itu menyatakan jika dirinya sangat kecewa dengan wanita yang seringkali mengkhianatinya. Entah apa kekurangannya, Donwori sudah berupaya setengah mati untuk menghidupi istri dan anak-anaknya.
Sebenarnya dia sangat beruntung memiliki istri-istri lugu, muda, kalem juga cantik. Terlebih, ia menemukan wanita itu saat Donwori nyopir ke daerah-daerah. “Mereka ada yang lulusan pondok, terus di rumah bantuin ibunya. Istriku yang ketiga ini, juga lulusan pondok. Saya nikahi umur 18. Orang Pati, Jawa Tengah,” cerita Donwori sambil tersenyum.
Kini istrinya sudah berumur 22 tahun. Ia pun meminta istrinya tinggal di rumah dan menunggu orang tuanya. Ia mengira istrinya baik-baik saja. Namun, endingnya, ternyata di luar dugaan Donwori. Dua bulan lalu, Donwori mendapati Karin sedang ketemuan dengan tetangganya yang menjadi penarik becak.
Begitu pula istri kedua dan pertamanya dulu, ia menemukan dalam keadaan bugil berselingkuh dengan pacarnya. “Anak tiga ikut saya semua. Istri wes ilang sama lanangannya,” kata Donwori yang masih bersemangat cari istri lagi.
Sesuai dengan prinsipnya, ia tetap ingin menikah lagi dengan wanita asal desa supaya dapat yang masih lugu.
Meskipun sudah menyimpulkan bahwa anak desa yang lugu tidak sebaik yang ia kira, tapi Donwori tetap semangat 45. “Gak papa kalau nanti cerai lagi. Yang penting saya dapat perawannya. Iseng-iseng obat awet muda,” pungkas Donwori. (*/opi) Editor : Administrator