LUKMAN AL FARISI/Wartawan Radar Surabaya
Sejak awal menikah, Karin, 30, tahunya Donwori, 36, sudah kerja di pasar. Jualan sambako dan kebutuhan perdapuran lainnya. Itu ngakunya Donwori pada istri tercinta, saat itu. Pekerjaan itu tak masalah bagi Karin. Yang penting halal dan mencukupi kebutuhan rumah tangganya.
Namun sudah dua tahun dua bulan menikah, Karin tak pernah diajak Donwori menengok toko jualannya. Padahal Karin sangat ingin tahu isinya. Syukur-syukur bisa membantu Donwori jualan, agar suaminya tak terlalu kecapekan. "Saya enggak pernah diajak sama sekali. Kalau minta ingin tahu tokonya selalu ada alasan. Katanya enggak tega kalau saya lihat toko di pasar, karena kotor dan kumuh," ujar Karin memulai ceritanya.
Awalnya Karin sih nurut-nurut saja. Sebab Donwori selalu tepat memberikan nafkah keluarga. Tak pernah telat apalagi kurang. Namun lama-lama, Karin curiga juga. Sebab Donwori mulai berpakaian tak biasa. Sedikit ngejreng seperti anak jalanan. "Karena nafkah lancar ya saya awalnya enggak masalah. Tapi kok lama-lama saya curiga Mas. Kalau pulang bawa teman seperti bukan pedagang," ungkapnya curiga.
Karin yang merasa penasaran sejak dahulu memutuskan mencari tahu. Tanpa pamit dan sepengatahuan Donwori, Karin pergi ke pasar diam-diam. Sesampainya di pasar, Karin kaget bukan kepalang. Ternyata Donwori hanya preman pasar dan bukan pedagang seperti yang selama ini disampaikan ke Karin.
Melihat tingkah Donwori yang kerap malak pedagang membuat Karin kesal dan geram. Ternyata selama ini, uang nafkahnya uang haram. Karin yang menyesal langsung melabrak Donwori. Sejak saat itu, biduk rumah tangganya jadi goyah.
Mahligai rumah tangga Donwori mulai diterpa masalah. Kerap cekcok hingga berselisih paham. Puncaknya Karin memilih untuk bercerai saja. Pergi ke Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya untuk mengajukan gugatan cerai.
"Saya malu Mas. Keluarga saya juga malu. Ternyata preman pasar. Ngakunya dagang dan jualan. Sudah enggak ada ampun mas saya malu dan cerai saja," jelasnya pekan lalu saat bertemu Radar Surabaya di parkiran PA Klas IA Surabaya. (*/opi) Editor : Administrator