GINANJAR ELYAS SAPUTRA-Wartawan Radar Surabaya
Dalam catatan Pengadilan Agama (PA) Klas IA Surabaya dan di mana pun PA berlokasi, masalah ekonomi menjadi salah satu sebab terbanyak munculnya perceraian. Entah karena suami yang tidak bekerja, istri yang penghasilannya lebih besar atau karena penghasilan tak pernah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Tapi, semua tetap tergantung pada pasangannya masing-masing. Kalau komitmennya bagus, komunikasinya jalan, sama-sama saling mencintai, ya persoalan ekonomi bisa dibicarakan untuk dicarikan titik temunya.
Nah, pasangan Donwori, 28, dan Karin, 26, ini contoh versi yang gagal karena persoalan ekonomi, sementara pondasi rumah tangga mereka juga kurang kuat. Akhirnya ada yang mengibarkan bendera putih sebagai tanda menyerah.
Ceritanya, Donwori akhir-akhir ini tiba-tiba menjadi laki-laki yang malas. Disuruh mencari kerja, bilangnya: ya, ya saja. Tapi tak pernah action. Padahal, dapur harus tetap mengepul. Karin pun dibuat kalang kabut. ”Akhirnya saya yang ngalah mencari kerja,” keluh Karin tanpa mau bercerita, kenapa Donwori tidak bekerja
Menurut Karin, idealnya suami bekerja, istri di rumah mengurus urusan domestik. Lha ini justru kebalikannya. “Saya yang kerja, tapi Mas Wori males-malesan ndok omah. Benar-benar gak ada tanggung jawabnya,” sambat Karin lagi.
Bukan karena Karin tidak ikhlas bekerja, akan tetapi ia nggak betah melihat suaminya enak-enakan di rumah. Selain itu, yang membuat Karin jengkel adalah Donwori hanya berjanji. Tidak ada aksi untuk mencari kerjaan baru.
Mumpung masih dua tahun nikah, Karin akhirnya memilih gercep. Ia tak mau lagi setiap hari dibebani urusan Donwori yang tak kunjung sembuh dari penyakit malasnya. “Kebetulan orang tua saya melihat anaknya digituin, ya emosi. Saya disuruh pisah saja. Minta agar kita cerai, mungkin karena malu punya menantu nganggur di rumah. Mungkin ini jalan terbaik buat saya dan suami saya,” tandas Karin. (*/opi) Editor : Administrator