RADAR SURABAYA - Karin tidak pernah membayangkan hidupnya akan berputar ke titik yang sama. Di usia 48 tahun, perempuan itu kembali menghadapi kenyataan pahit: rumah tangga yang ia bangun dengan penuh harapan, perlahan runtuh.
Padahal, ketika memutuskan menikah untuk kedua kalinya, Karin merasa telah menemukan pelabuhan baru. Ia berharap pernikahan keduanya bisa menjadi tempat bernaung, setelah kegagalan pada rumah tangga pertama.
Adalah Donwori, lelaki 45 tahun yang kala itu datang dengan kesan sederhana dan meyakinkan. Keduanya menikah secara sah dan tercatat di salah satu Kantor Urusan Agama (KUA) di Kabupaten Mojokerto pada 2016. Saat itu, Karin berstatus janda tanpa anak, sedangkan Donwori masih lajang.
Baca Juga: Polisi Periksa Enam Saksi Kasus Pembunuhan di Putat Jaya Surabaya
Awal pernikahan mereka berjalan sebagaimana impian banyak pasangan. Tenang. Nyaris tanpa gejolak berarti. Mereka membangun rumah tangga dengan penuh harapan. Dari pernikahan itu, lahirlah dua anak yang menjadi pelengkap kebahagiaan. Namun, ketenangan itu ternyata tidak bertahan lama.
Setelah sembilan tahun menjalani kehidupan bersama, hubungan keduanya mulai retak. Pertengkaran demi pertengkaran semakin sering terjadi. Hal-hal kecil bisa berubah menjadi ledakan emosi yang sulit dikendalikan.
Karin merasakan perubahan besar pada diri suaminya. Donwori yang dulu dikenal sabar dan lembut, berubah menjadi sosok yang mudah marah. Bukan sekadar pertengkaran biasa.
Menurut Karin, suaminya kerap melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Bukan hanya dalam bentuk fisik, tetapi juga verbal. Kata-kata kasar sering terlontar, bahkan di depan anak-anak mereka.
Baca Juga: Perusakan dan Serang Petugas di Gedung Grahadi Surabaya, Empat Orang Ditahan, Enam Positif Narkoba
“Kalau sedang marah, dia mengumpat saya di depan anak-anak. Kadang juga memukul saya,” ujar Karin pekan lalu.
Yang membuat Karin semakin terpukul, Donwori juga tak lagi menjalankan kewajibannya sebagai kepala keluarga. Nafkah untuk kebutuhan rumah tangga nyaris tidak pernah diberikan.
Akibatnya, seluruh kebutuhan keluarga bertumpu pada Karin. Dengan penghasilannya sebagai karyawan swasta, ia harus menopang biaya hidup sehari-hari sekaligus kebutuhan anak-anak.
Dalam kebingungan, Karin berusaha mencari jawaban. Ia mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi pada suaminya. Jawaban itu akhirnya datang, meski pahit.
Karin mengetahui bahwa Donwori ternyata terjerat penyalahgunaan narkoba. Kecanduan itulah yang diduga mengubah perilaku suaminya secara drastis. Ia tidak tinggal diam. Karin sudah berulang kali menegur suaminya. Bukan hanya sendiri, ia juga meminta bantuan keluarga Donwori agar ikut menasihati.
Tetapi semua upaya itu tidak membuahkan hasil. “Saya sudah berusaha menegur, baik sendiri maupun lewat keluarganya. Tapi tidak pernah dihiraukan,” tuturnya.
Baca Juga: Sering Abaikan Air Putih, Ini Risiko Penyakit yang Mengintai Tubuh
Saat kesabaran habis dan harapan perlahan menghilang, Karin akhirnya mengambil keputusan besar. Ia memilih mengakhiri pernikahan yang selama ini berusaha dipertahankan.
Gugatan cerai pun diajukan ke Pengadilan Agama Kota Surabaya. Setelah menikah, pasangan itu memang telah pindah dari Mojokerto dan menetap di Surabaya.
Bagi Karin, keputusan itu bukan hal mudah. Apalagi ada dua anak yang harus dipikirkan. Namun, bertahan dalam hubungan yang dipenuhi kekerasan dan ketidakpastian juga bukan pilihan yang sehat. (*)
Editor : Lambertus Hurek