Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Suami Sering Bentak Istri di Hadapan Orang Tuanya, Berujung ke PA Surabaya

Andy Satria • Selasa, 2 Juni 2026 | 16:51 WIB
Ilustrasi suami membentak istri di hadapan orang tuanya. (AI)
Ilustrasi suami membentak istri di hadapan orang tuanya. (AI)

  

 

RADAR SURABAYA - Kadang sebuah rumah tangga tidak berakhir karena persoalan besar . Ada yang dimulai dari kata-kata yang menyakitkan, hingga akhirnya meninggalkan jarak yang tak lagi mampu dijembatani.

Karin masih mengingat jelas peristiwa itu. Bukan karena pertengkarannya yang paling besar. Bukan pula karena persoalan yang paling rumit. Tetapi karena kejadian itu berlangsung di depan kedua orang tuanya sendiri.

Di hadapan orang-orang yang membesarkannya, ia harus menerima bentakan dari suaminya. Saat itu ia hanya bisa diam. Perasaan malu bercampur kecewa. Sejak kejadian itulah, hubungan rumah tangganya perlahan berubah.

Baca Juga: Histeris saat Hendak Mandi, Ular Raksasa Muncul dari Saluran Air Warga Surabaya

Karin, 28, menikah dengan Donwori, 30, pada 2024. Pernikahan mereka tercatat secara resmi di salah satu kantor urusan agama di Surabaya. Seperti pasangan muda pada umumnya, mereka memulai rumah tangga dengan harapan besar. Keduanya membayangkan kehidupan yang harmonis dan saling mendukung.

Pada tahun pertama pernikahan, harapan itu masih terasa nyata. Hubungan mereka berjalan cukup baik. Tidak ada persoalan yang dianggap serius. Rumah tangga mereka terlihat tenang dan jauh dari konflik besar.

Namun, keadaan mulai berubah memasuki tahun 2025. Perselisihan demi perselisihan mulai muncul. Awalnya hanya perbedaan pendapat yang dianggap wajar dalam kehidupan berumah tangga. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, pertengkaran menjadi semakin sering terjadi.

Menurut Karin, sumber masalah bukan semata karena perbedaan pandangan. Ia merasa suaminya kerap bersikap keras dan tidak mampu mengendalikan emosi.

Yang paling membuatnya terluka adalah ketika Donwori memarahi dan membentaknya di depan orang tuanya sendiri. Bagi Karin, kejadian tersebut meninggalkan luka batin yang sulit dilupakan.

“Saya pernah dimarahi dan dibentak-bentak olehnya di depan orang tua saya sendiri. Dan itu tidak hanya sekali terjadi,” ungkapnya.

Baca Juga: Kenali 6 Keunggulan Introvert, Si Paling Peka dalam Membaca Situasi

Karin mengakui sejak awal ia mengetahui suaminya memiliki karakter keras dan mudah terpancing emosi. Namun, ia tidak pernah membayangkan sifat tersebut akan terbawa hingga ke dalam kehidupan rumah tangga mereka.

Menurut dia, setiap orang bisa saja marah. Namun ada batas yang seharusnya dijaga, terutama ketika berada di tengah keluarga besar atau di hadapan orang tua.

“Dia memang orang yang temperamental. Tetapi seharusnya dia tahu kapan waktu dan tempat yang tepat,” ujarnya.

Berbagai upaya untuk memperbaiki hubungan sebenarnya sudah dilakukan. Kedua keluarga pernah turun tangan dan berusaha mendamaikan mereka. Nasihat demi nasihat diberikan agar rumah tangga tersebut bisa dipertahankan.

Sayangnya, usaha itu tidak membuahkan hasil seperti yang diharapkan. Perselisihan tetap terjadi dan hubungan keduanya semakin sulit diperbaiki. Karin mengaku sudah berulang kali mencoba bertahan, tetapi kesabarannya memiliki batas.

Bagi perempuan itu, pernikahan seharusnya menjadi tempat yang menghadirkan rasa aman dan penghargaan. Ketika yang dirasakan justru sebaliknya, ia merasa tidak memiliki banyak pilihan.

Setelah mempertimbangkan berbagai hal, Karin akhirnya memutuskan mengakhiri rumah tangganya. Ia mengajukan gugatan cerai terhadap Donwori ke Pengadilan Agama Kota Surabaya.  (*)

Editor : Lambertus Hurek
#istri gugat #suami bentak istri #perceraian #KDRT #PA Surabaya