RADAR SURABAYA - Kadang sebuah rumah tangga tidak runtuh karena badai besar. Tetapi karena pintu hati yang pelan-pelan tertutup.
Itulah yang dirasakan Donwori, 31. Ia sudah mencoba bertahan, membujuk, bahkan datang berkali-kali ke rumah mertuanya demi mempertahankan pernikahan dengan Karin, 31. Namun, semua usahanya seperti berbicara pada tembok.
Tidak ada lagi jawaban. Tidak ada lagi sambutan. Yang tersisa hanya jarak yang semakin jauh.
Pernikahan Donwori dan Karin sebenarnya belum terlalu lama. Mereka menikah resmi pada tahun 2021 dan tercatat di KUA Kecamatan Bulak, Surabaya.
Baca Juga: Kasus Viral Pengantin Kabur di Pati Berujung Sepakat Ganti Rugi dan Menikah
Awalnya rumah tangga mereka berjalan biasa saja. Bahkan bisa dibilang harmonis. Tidak ada cerita besar. Tidak ada keributan yang membuat tetangga menoleh. Mereka menjalani kehidupan seperti pasangan muda kebanyakan. Sederhana. Tenang. Meski hingga kini belum dikaruniai anak.
Namun, suasana itu mulai berubah memasuki tahun 2024. Pertengkaran kecil mulai sering muncul. Penyebabnya juga macam-macam. Kadang persoalan sepele. Kadang karena perbedaan pendapat yang sebenarnya tidak terlalu besar. Tetapi jika terjadi terus-menerus, pertengkaran kecil bisa berubah menjadi bom waktu.
Donwori mengaku sebenarnya masih ingin mempertahankan rumah tangganya. Ia bukan tipe pria yang mudah menyerah begitu saja. Ketika Karin memilih pulang ke rumah orang tuanya pada November 2025 lalu, Donwori masih berusaha menjemput dan membujuk istrinya agar kembali pulang.
Namun yang ia dapat justru penolakan. “Saya sudah berusaha membujuknya agar mau pulang bersama saya. Tetapi dia tidak mau,” ujar Donwori dalam keterangannya.
Penolakan itu rupanya tidak hanya sekali. Donwori beberapa kali datang menemui Karin. Tetapi perempuan itu sudah tidak mau lagi menemuinya. Bahkan sekadar berbicara pun tidak.
Baca Juga: Berawal dari Mandi di Sungai Kedungsulur Ponorogo, 4 Anak Tenggelam, 1 Meninggal Dunia
“Ketika saya datang, dia sudah tidak lagi mau menemui saya. Intinya dia sudah tidak menerima saya,” lanjutnya.
Pihak keluarga sebenarnya sempat turun tangan. Mereka mencoba menjadi penengah. Berharap hubungan pasangan muda itu masih bisa diperbaiki. Tetapi rupanya hati Karin sudah bulat. Ia memilih tetap tinggal bersama orang tuanya.
Di titik itulah Donwori mulai merasa lelah. Sebab, mempertahankan hubungan tidak bisa dilakukan sendirian. Kalau hanya satu pihak yang berjuang, hasilnya sering kali hanya rasa capek.
Akhirnya, Donwori memilih jalan yang paling tidak ingin ia ambil sejak awal: perceraian. Gugatan itu kini sudah diajukan ke Pengadilan Agama Kota Surabaya. (*)
Editor : Lambertus Hurek