RADAR SURABAYA - Judi memang racun bagi rumah tangga. Uang yang seharusnya dipakai untuk kebutuhan rumah tangga malah habis di meja judi.
Karin sebenarnya tidak pernah menuntut hidup mewah dari suaminya. Baginya sederhana saja cukup. Yang penting kebutuhan rumah tangga terpenuhi, anaknya terurus, dan suaminya mau bertanggung jawab sebagai kepala keluarga.
Baca Juga: BPOM Tarik 11 Kosmetik Berbahaya, Ada Brand Sejuta Umat
Namun, harapan itu perlahan hilang. Perempuan 24 tahun itu kini memilih mengakhiri rumah tangganya dengan Donwori, 26. Penyebabnya bukan karena orang ketiga. Bukan pula karena masalah ekonomi semata. Tapi karena kebiasaan berjudi yang membuat Donwori lupa pada keluarga sendiri.
Karin dan Donwori menikah secara sah pada 2023 lalu. Pernikahan mereka tercatat di KUA Kecamatan Tambaksari, Surabaya. Dari pernikahan itu, keduanya dikaruniai seorang anak.
Di awal pernikahan, kehidupan rumah tangga mereka berjalan normal seperti pasangan muda pada umumnya. Sesekali ada cekcok kecil, namun masih bisa diselesaikan baik-baik. Karin bahkan mengaku sempat merasa yakin Donwori bisa menjadi sosok suami sekaligus ayah yang bertanggung jawab.
Namun keadaan mulai berubah sejak tahun 2025. Menurut Karin, suaminya mulai sering bermain judi. Awalnya ia tidak terlalu curiga. Sebab, Donwori masih pulang seperti biasa dan tetap beraktivitas normal. Tetapi lama-kelamaan perubahan sikap itu mulai terasa.
Uang belanja semakin jarang diberikan. Kebutuhan rumah tangga sering terbengkalai. Bahkan, kebutuhan anak mereka beberapa kali harus dipenuhi sendiri oleh Karin.
Baca Juga: Istana Presiden Meksiko Diserbu 50 Ribu Massa, Bukan untuk Demo, Tapi Fans BTS
"Dia itu kecanduan judi. Sampai saya dan anaknya sudah tidak dipikir lagi," ujar Karin dengan nada kecewa.
Padahal, Karin juga bekerja. Ia memiliki penghasilan sendiri. Namun menurutnya, bekerja bukan berarti seluruh kebutuhan keluarga menjadi tanggung jawabnya seorang diri.
"Meskipun saya bekerja, masak, semuanya saya yang memenuhi. Terus tanggung jawab dia sebagai kepala keluarga bagaimana?" katanya.
Yang membuat Karin semakin sakit hati, Donwori justru terlihat lebih memikirkan kesenangan pribadinya dibanding keluarganya sendiri. Uang yang seharusnya dipakai untuk kebutuhan rumah tangga malah habis untuk berjudi.
Akibat persoalan itu, pertengkaran di antara keduanya semakin sering terjadi. Rumah yang dulu terasa hangat perlahan berubah penuh ketegangan. Hal kecil bisa memicu pertengkaran panjang. Sampai akhirnya Donwori memilih pergi meninggalkan rumah dan kembali tinggal bersama orang tuanya.
Pihak keluarga sebenarnya sempat turun tangan. Mediasi dilakukan dengan mempertemukan kedua belah pihak agar rumah tangga itu bisa dipertahankan. Namun usaha tersebut tidak membuahkan hasil.
Karin mengaku sudah terlalu lelah bertahan. Baginya, persoalan terbesar bukan sekadar soal uang. Tetapi hilangnya tanggung jawab dan perhatian seorang suami terhadap istri dan anaknya sendiri.
Karena itu, Karin akhirnya memutuskan menggugat cerai Donwori ke Pengadilan Agama Kota Surabaya. Ia berharap setelah semua selesai, dirinya bisa menjalani hidup lebih tenang bersama anaknya. (*)
Editor : Lambertus Hurek