Ketika masa pacaran, tak henti-hentinya mengajak untuk segera menghalalkan hubungan. Eh tak tahunya, sikapnya berubah total setelah sah. Makin cinta tidak, menyakiti iya.
TIM Wartawan Radar Surabaya
Rupanya Donwori, 27, masih menyimpan dendam. Gara-gara Karin, 22, menolak menggugurkan bayi hasil hubungan gelapnya saat pacaran. "Dia belum siap mau jadi bapak. Tapi namanya ibu Mbak, yaapa-yaapa gak tega kalau harus menggugurkan janinnya sendiri," curhat Karin di kantor pengacara dekat Pengadilan Agama (PA) Kelas 1A Surabaya.
Memang, Donwori bertanggung jawab. Setelah insidan MBA (married by accident) itu, Donwori akhirnya menikahi Karin. Lima bulan setelah pernikahan, bayinya lahir. Namun setelah itu, Karin hampir tidak mengenal Donwori. Karena sikap suaminya ini berubah total.
Meski sudah jadi pasangan suami istri, Karin dan Donwori tidak tinggal bersama. Karin tinggal dengan orang tuanya, sementara Donwori tinggal dengan papa mamanya sendiri. Sepulang kerja, sesekali Donwori datang untuk menjenguk anaknya. Namun Donwori cuek dengan Karin. Menyapa pun tidak.
Sempat sesekali Karin yang mengajak Donwori ngobrol duluan. Ya disiapi makanan, ya disiapi kamar. Karin dandan secantik mungkin, juga pakai baju yang bikin semriwing. Harapannya biar dipuji oleh suaminya. Tapi bukannya pujian yang ia dapat, tapi malah seperti kata-kata kasar. Tak segan Donwori menyamakan dandanan Karin dengan pelacur.
Tak hanya itu, bahkan untuk keperluan anak sendiri, Donwori tidak pernah mau mengeluarkan uang. Jangankan beli popok. Dimintai uang untuk membeli perlengkapan dasar bayi saja, Donwori marah-marah. "Kalau aku minta, pasti jawabannya suruh beli pakai uangku sendiri atau minta orang tua," lanjutnya.
Sementara Donwori, selalu beralasan bokek. Padahal, setiap menjenguk ke rumah, Karin tahu kalau barang-barang Donwori selalu baru. Ya handphone baru, jam tangan, kemeja. Ada saja barang mahal yang dibelinya.
Dukungan materiil tak diberikan Donwori kepada Karin. Pun dukungan moral, juga tak ada sama sekali. Kapan pun Karin meminta diantar ke rumah sakit untuk periksa, Donwori selalu menolak. Biasanya alasannya bikin geregetan. Sudah ada janji futsal dengan teman-teman. Atau kadang, sedang capek karena kerjaan menumpuk.
Sekali dua kali sih Donwori terkadang mengantar. Namun ujung-ujungnya malah bertengkar. "Pernah aku sampai mau lompat dari mobil. Dia nyetir sambil vape-an. Saya parno. Nanti kalau batereinya meledak, gimana sama anak saya. Tak paksa berhenti, dia ngancam mau bunuh aku dengan menabrakkan mobil ke truk di depan. Ya itu saya mau loncat," curhatnya.
Saking tertekan dengan perlakuan suaminya, Karin bolak-balik masuk UGD karena vertigo. Biayanya dari mana? Ya Karin sendiri lah yang bayar urusan rumah sakit. “Aku minta orang tua,” tukasnya.
"Aku sudah gak kenal lagi sama Mas Wori yang dulu ngebet terus ngajak nikah. Nah sekarang sudah nikah, kok aku disia-siakan gini jadinya," pungkas Karin yang memilih mundur teratur setelah mencoba bertahan selama satu tahun lamanya. (*/opi)
Editor : Jay Wijayanto