TIM Wartawan Radar Surabaya
Karin memutuskan hijrah ke Jakarta, enam tahun lalu. Selain karena ingin cari duit yang lebih gede (gaji lebih besar), ia juga ingin lebih mandiri. Bisa menghasilkan uang sendiri, sehingga untuk memenuhi kebutuhan hidup ia tak hanya mengandalkan gaji Donwori yang dianggapnya selalu di bawah UMR. “Mas Wori sepakat (mengizinkan Karin kerja di Jakarta), anak diasuh tanteku di Malang,” Karin mengawali ceritanya.
Kalau kata Karin, Donwori ini tidak pandai mencari nafkah. Di Surabaya pun, Karin nyaris jadi tulang punggung keluarga. Sementara Donwori hanya bekerja serabutan. Peran keduanya pun terbalik. Karin yang sering bekerja di luar, sementar Donwori yang membereskan urusan rumah tangga. “Alhamdulillah di Jakarta dapat gaji sesuai cita-cita. Bisa tiga-empat kali lipat gaji saya di Surabaya,” akunya.
Gaji yang jauh dari cukup itulah yang membuat Karin betah kerja di Jakarta. Saking betahnya, perempuan berperawakan tomboy ini relatif jarang pulang. Dalam lima tahun perantauannya, ia hanya pulang tiga kali. “Waktu ibuk meninggal, adik saya nikah dan ketiga ya ini, ngurus perceraian,” tegasnya.
Di lorong yang panjang itu, Karin menceritakan bagaimana prahara rumah tangganya. Karin mengaku, di awal, ia masih peduli dengan Donwori. Bahkan, ketika mengirim uang untuk sang anak, Karin juga selalu memberikan Donwori jatah. Namun sokongan dana mulai Karin hentikan ketika ia tahu uang yang diberikan untuk main perempuan.
Donwori sendiri makin tak mau disalahkan. Laki-laki 35 tahun itu beralasan, semua itu dilakukan karena kesepian. Percekcokan jarak jauh pun tak bisa terhindarkan. Dari percekcokan ini, keduanya lepas kontak. Bukan sebulan dua bulan, tapi tahunan.
Dan setelah tak saling menyapa ini, tiba-tiba sebuah kabar sampai di telinganya. Mengatakan Donwori telah menikah siri dengan perempuan lain. “Katanya, sudah dua tahun (nikah siri, Red),” kata Karin, kecewa.
Mengetahui kenyataan ini Karin juga biasa saja. Ia katakan memang sudah tak ada rasa dengan Donwori. Makanya, ia tak peduli lagi mau Donwori menikahi dua orang kek, atau tiga, kalau katanya, bukan urusannya lagi. "Aku tanpa dia juga bisa hidup mandiri, terserah," aku Karin kemudian.
Kalau tak lagi peduli, mengapa ia ngoyo-ngoyo ke pengadilan? Rupanya, bukan urusan cerai saja yang ia urus. Melainkan urusan waris juga. "Wong bukan siapa-siapa dia, seenaknya mau ngelola warisane ibuk. Cek enake Dia (Donwori, Red). Dia sing kudune bayar aku karena gak pernah ngasih nafkah," celetuk Karin memulai omelannya yang panjang tiada akhir. (*/opi) Editor : Administrator