RADAR SURABAYA – Pernyataan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio soal peran Israel dalam serangan militer Amerika Serikat ke Iran memicu polemik luas di Washington.
Klaim tersebut bergema di kalangan politisi lintas partai, bahkan memunculkan kritik dari basis pendukung Presiden Donald Trump sendiri.
Rubio pada Senin (2/3) menyebut bahwa Israel telah merencanakan serangan terhadap Iran. Menurutnya, langkah itu diyakini akan memicu pembalasan Teheran terhadap aset-aset AS di kawasan, sehingga Washington merasa perlu melakukan serangan pendahuluan.
“Kami tahu akan ada aksi dari Israel. Kami tahu itu akan memicu serangan terhadap pasukan Amerika, dan jika kami tidak bertindak lebih dulu, korban di pihak kami akan lebih besar,” ujar Rubio dikutip dari Al Jazeera.
Namun, sehari kemudian, Trump memberikan penjelasan berbeda. Ia menegaskan bahwa keputusan menyerang Iran diambil karena adanya ancaman langsung terhadap Amerika Serikat.
“Iran sedang bersiap menyerang Israel dan pihak lain. Kami tidak akan menunggu sampai diserang,” kata Trump.
Narasi Pemerintah Dipertanyakan
Perbedaan narasi tersebut memicu perdebatan tajam di dalam negeri. Sejumlah analis menilai logika “serangan pendahuluan” yang disampaikan
Rubio berpotensi bertentangan dengan hukum AS maupun hukum internasional, terutama jika tidak didukung bukti ancaman yang bersifat segera (imminent threat).
Selama ini, Washington diketahui memiliki pengaruh besar terhadap Israel. Sejak 1948, AS telah mengucurkan lebih dari 300 miliar dolar AS bantuan militer kepada negara tersebut, termasuk puluhan miliar dolar dalam konflik terbaru di Gaza.
Banyak pengamat menilai eskalasi perang dengan Iran lebih sejalan dengan kepentingan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang selama dua dekade terakhir dikenal sebagai penentang keras program nuklir Iran dan kerap mendorong pendekatan konfrontatif.
Tekanan dari Kongres
Gelombang kritik tidak hanya datang dari Partai Demokrat. Senator independen Bernie Sanders secara terbuka mengecam kebijakan tersebut.
“Netanyahu menginginkan perang dengan Iran. Trump memberikannya,” kata Sanders dalam pernyataan tertulis. Ia menegaskan kebijakan luar negeri AS seharusnya ditentukan oleh rakyat Amerika, bukan pemerintah negara lain.
Dari Partai Republik, anggota DPR Thomas Massie juga menyuarakan kekhawatiran. Ia mengingatkan dampak ekonomi yang mungkin timbul, mulai dari kenaikan harga bahan bakar hingga kebutuhan pokok.
Sejumlah legislator berencana mengajukan resolusi war powers di DPR dan Senat pekan ini guna membatasi kewenangan presiden dalam melancarkan perang tanpa persetujuan Kongres.
Namun, langkah tersebut diperkirakan menghadapi tantangan berat mengingat mayoritas tipis Partai Republik di kedua kamar parlemen cenderung mendukung Trump.
Kritik dari Basis MAGA
Kontroversi ini juga mengguncang basis pendukung “Make America Great Again” (MAGA). Beberapa tokoh konservatif menilai pernyataan Rubio justru memperkuat kesan bahwa AS terseret kepentingan Israel.
Kritik keras juga muncul dari kalangan aktivis hak asasi manusia dan organisasi masyarakat sipil yang mempertanyakan legalitas serta urgensi serangan terhadap Iran.
Dampak Global dan Ancaman Eskalasi
Di tingkat internasional, konflik AS-Iran berisiko memicu ketidakstabilan kawasan Timur Tengah yang lebih luas. Iran telah melancarkan serangan balasan terbatas di sejumlah titik strategis, sementara sekutu-sekutu AS meningkatkan status siaga.
Pengamat geopolitik memperingatkan bahwa ketegangan ini dapat berdampak pada stabilitas harga energi global, terutama jika jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz ikut terdampak.
Dengan narasi pemerintah yang dinilai belum sepenuhnya konsisten, perdebatan di Washington dipastikan akan terus berlanjut.
Pertanyaan utama yang kini mengemuka adalah: apakah serangan tersebut benar-benar demi kepentingan nasional Amerika Serikat, atau justru bagian dari dinamika aliansi strategis yang lebih kompleks?. (rak)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan