RADAR SURABAYA — Manchester United mendapat pujian dari CEO Omar Berrada setelah laporan finansial terbaru mengungkap kenaikan laba operasi yang mengejutkan, meski klub
menghadapi kritik tajam atas kebijakan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) besar-besaran sejak pengambilalihan Sir Jim Ratcliffe pada 2024.
Laba Operasional Melonjak di Tengah Restrukturisasi
Manchester United membukukan laba operasional £13 juta, naik drastis dari rugi £7 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Dalam Rupiah itu sekitar Rp289 miliar—suatu sinyal perbaikan finansial yang kuat di tengah tekanan biaya.
Berrada menegaskan bahwa keputusan sulit untuk memangkas struktur biaya dan merampingkan organisasi kini mulai menunjukkan hasil nyata.
Menurutnya langkah ini memperkuat fondasi klub untuk pertumbuhan jangka panjang baik di ranah olahraga maupun komersial.
Pendapatan Menurun Tipis, Klub Tetap Optimistis
Klub juga melaporkan sedikit penurunan pendapatan tahunan dari £143,1 juta (Rp3,18 triliun) menjadi £140,3 juta (Rp3, 11 triliun) — meskipun pendapatan masih solid.
Man United tetap optimistis dengan proyeksi pendapatan tahunan di kisaran £640 juta–£660 juta (± Rp14,2 triliun–Rp14,7 triliun), mencerminkan stabilitas finansial yang masih kuat.
Tagihan Gaji Menurun Pasca PHK
Tagihan gaji periode ini turun menjadi £73,6 juta (sekitar Rp1,63 triliun), didorong oleh pengurangan bonus dan dampak PHK besar-besaran.
Langkah strategis termasuk peminjaman pemain seperti Marcus Rashford ke Barcelona yang membantu mengurangi beban gaji — Barcelona mengambil alih pembayaran gaji sekitar £350.000 per minggu (± Rp7,77 miliar per minggu) selama masa peminjaman.
Dampak Transfer dan Penghematan
Selain itu, klub tengah bersiap potensi penghematan lebih jauh. Casemiro diperkirakan akan hengkang akhir musim, sementara Jadon Sancho diprediksi akan meninggalkan klub secara gratis setelah masa peminjaman berakhir di Aston Villa.(rak)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan