RADAR SURABAYA – Dunia sepak bola bersiap menyambut periode FIFA Matchday 10–18 November 2025.
Di berbagai belahan dunia, bendera-bendera negara mulai dikibarkan, tim nasional kembali berkumpul, dan stadion-stadion bersiap menyambut laga internasional bergengsi. Namun, di tengah hiruk-pikuk itu, Timnas Indonesia justru diam tak bergema.
Tak ada jadwal uji coba. Tak ada pengumuman pemain. Bahkan, tak ada pelatih yang memimpin latihan.
Padahal, dalam kalender FIFA, seluruh pertandingan internasional tercatat rapi di FIFA Match Center — dan nama Indonesia tak muncul di sana.
Garuda Tanpa Sayap di Bulan November
Kondisi ini menimbulkan tanya besar di kalangan pecinta sepak bola Tanah Air. Di saat negara-negara Asia Tenggara lain seperti Thailand, Vietnam, dan Malaysia sudah menyiapkan laga
uji coba untuk memperbaiki peringkat FIFA mereka, Indonesia justru absen dari daftar pertandingan internasional.
FIFA Matchday bukan sekadar pertandingan persahabatan. Ini ajang untuk menjaga ritme kompetitif, menguji strategi, dan menambah poin FIFA. Absen di periode ini artinya kehilangan kesempatan berharga.
Akar Masalah: Kekosongan di Kursi Pelatih
Salah satu penyebab utama kekosongan agenda timnas adalah berakhirnya kontrak Patrick Kluivert pada 16 Oktober 2025. Sejak saat itu, PSSI belum menunjuk pelatih baru.
Situasi ini menciptakan ruang kosong yang membuat Timnas Indonesia kehilangan arah. Tanpa pelatih, sulit menentukan program latihan, strategi, bahkan lawan uji coba yang sepadan.
Padahal, timnas sempat memiliki momentum besar setelah tampil kompetitif di babak kualifikasi Piala Dunia 2026.
Meski gagal lolos, semangat dan dukungan publik saat itu begitu tinggi. Kini, hanya sebulan setelah kontrak Kluivert berakhir, antusiasme itu kembali meredup.
FIFA Matchday: Cermin Kesiapan Sebuah Negara
FIFA Matchday sejatinya menjadi cermin bagaimana sebuah federasi mengelola tim nasional.
Dalam periode ini, klub wajib melepas pemainnya agar bisa memperkuat negara asal. Negara-negara memanfaatkan momen itu untuk memperkuat chemistry pemain dan memperbaiki taktik.
Namun, tanpa rencana matang, Indonesia melewatkan kesempatan untuk berkembang. Tidak adanya laga berarti kehilangan jam terbang internasional.
Peringkat FIFA yang sempat naik bisa kembali merosot karena stagnasi aktivitas.
Negara lain memanfaatkan setiap jeda internasional untuk eksperimen formasi dan memberi menit bermain bagi pemain muda.
Indonesia justru berhenti total. Ini bukan hanya soal pertandingan, tapi juga soal visi pembinaan jangka panjang.
Bayangan Masa Lalu dan Tantangan ke Depan
Sejak gagal di kualifikasi Piala Dunia 2026, banyak pihak menilai PSSI belum menunjukkan rencana strategis untuk membangkitkan Timnas Indonesia.
Janji reformasi dan pembinaan usia muda masih belum tampak hasilnya. Sementara itu, ekspektasi publik tetap tinggi.
Ketika negara lain memperkuat sinergi dengan liga domestik dan memperbanyak uji coba internasional, Indonesia tampak masih mencari arah.
Di tengah situasi ini, pemain-pemain potensial justru kehilangan wadah untuk berkembang.
Padahal, jeda internasional adalah waktu yang ideal untuk mengasah performa mereka di level internasional.
Publik Menunggu Langkah Nyata
Kini, sorotan tertuju pada PSSI. Siapa pelatih baru yang akan menggantikan Kluivert? Apa rencana jangka pendek Timnas Indonesia sebelum kalender kompetisi 2026 bergulir? Pertanyaan itu menggantung tanpa jawaban pasti.
Publik berharap federasi tidak lagi terjebak dalam pola reaktif — sibuk hanya ketika kompetisi besar sudah di depan mata.
Karena sepak bola bukan tentang instan, melainkan tentang proses, kesinambungan, dan arah yang jelas.
FIFA Matchday ini seharusnya jadi momentum untuk introspeksi. Ketika negara lain bersiap bertanding, Indonesia justru punya kesempatan untuk berbenah.
Garuda Perlu Terbang Lagi
November ini, stadion-stadion dunia akan bergemuruh oleh chant dan nyanyian nasional. Sementara di Indonesia, para suporter mungkin hanya bisa menatap layar dan berkata, “Kapan lagi kita lihat Garuda bermain?”
Kalimat sederhana itu menggambarkan kerinduan mendalam. Karena bagi publik Tanah Air, Timnas bukan sekadar tim sepak bola, melainkan simbol harapan dan kebanggaan.
Dan harapan itu, sampai hari ini, masih menunggu untuk kembali terbang.(rak)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan