RADAR SURABAYA - Kegagalan Timnas Indonesia melaju ke Piala Dunia 2026 mendapat sorotan tajam dari media Belanda.
Kolumnis De Telegraaf, Valentijn Driessen, melontarkan kritik keras kepada pelatih Patrick Kluivert dan jajaran stafnya, menyebut mereka “tidak layak” setelah tersingkir dari fase kualifikasi.
Indonesia, yang sempat berharap banyak setelah merekrut sejumlah figur berpengalaman asal Belanda, harus mengubur mimpi usai menelan dua kekalahan beruntun dari Arab Saudi dan Irak.
Harapan besar yang dibangun pun berubah menjadi sorotan pedas dari publik internasional.
Ekspektasi Tinggi, Hasil Mengecewakan
Selain Kluivert, beberapa nama seperti Alex Pastoor, Denny Landzaat, Jordy Cruijff, dan Regi Blinker turut bergabung dalam proyek besar Timnas Indonesia.
Kolaborasi ini diharapkan menjadi tonggak kebangkitan Garuda demi kembali tampil di panggung Piala Dunia setelah 1938.
Namun, menurut Driessen, kontribusi besar itu tidak mampu mengubah hasil di lapangan.
“Meski memiliki banyak pemain keturunan Belanda, mereka tetap tersingkir oleh Irak,” tulis Driessen dikutip dari Voetbalprimeur.
“Kegagalan melawan lawan yang seharusnya bisa diatasi. Ini hampir pasti akan berujung pada pemecatan dan sebagian pelatih Belanda akan meninggalkan Jakarta, dengan cap: tidak layak.”
Media Belanda Pertanyakan Proyek Garuda
Kritik ini tidak hanya tertuju pada Kluivert, tetapi juga strategi jangka panjang PSSI yang menggandeng tenaga asing.
Menurut Driessen, hasil akhir memperlihatkan bahwa proyek ini belum menunjukkan kemajuan signifikan di ajang internasional.
Penggunaan pemain naturalisasi dan pelatih asing dipertanyakan efektivitasnya, terlebih ketika hasil yang dicapai tidak berbeda jauh dari era sebelumnya.
Baca Juga: Harga Emas Pegadaian Hari Senin 13 Oktober Stabil, Antam, UBS, dan Galeri24 Kompak Tak Bergerak
Akankah Ada Evaluasi Besar?
Meski kritik datang dari luar negeri, tekanan juga muncul dari dalam negeri. Publik sepak bola Indonesia menuntut evaluasi menyeluruh terhadap kepelatihan dan komposisi skuad.
Beberapa analis menilai, kegagalan ini dapat menjadi momentum untuk mengevaluasi kembali arah pembangunan Timnas, termasuk peran pelatih asing, pengembangan pemain lokal, hingga mental bertanding di laga penting.
Penantian Panjang Masih Berlanjut
Hingga kini, Indonesia masih belum mampu mengulangi sejarah tampil di Piala Dunia seperti Hindia Belanda pada 1938.
Perjalanan panjang menuju panggung dunia kembali tertunda, meninggalkan pertanyaan besar:
Apakah proyek jangka panjang dengan sentuhan Eropa benar-benar membawa perubahan?.(rak)