RADAR SURABAYA – FC Barcelona resmi mengumumkan restrukturisasi utang sebesar €424 juta ( Rp7,42 triliun) dari proyek Espai Barca.
Langkah ini memungkinkan klub menunda pembayaran hingga tahun 2050, memberikan ruang bagi manajemen untuk menstabilkan keuangan di tengah krisis yang belum pulih sepenuhnya.
Proyek Espai Barca, termasuk renovasi Camp Nou, diperkirakan menelan biaya hingga €1,45 miliar (Rp25,375 triliun).
Barcelona sendiri masih dibebani total utang antara €1 miliar hingga €1,5 miliar (Rp17,5 triliun hingga Rp26,25 triliun), belum termasuk pembiayaan proyek ambisius ini yang mendorong total kewajiban mendekati €3 miliar (Rp52,5 triliun).
Barcelona Terbitkan Obligasi Jangka Panjang
Dalam pengumuman resmi pada Jumat (27/6), Blaugrana menyatakan telah menerbitkan obligasi senilai €424 juta, bekerja sama dengan Goldman Sachs.
Dana tersebut mencakup sekitar 40% dari utang proyek Espai Barca. Barcelona akan mulai membayar kembali obligasi ini pada tahun 2033
dan melunasinya secara penuh pada 2050, dengan rata-rata bunga sebesar 5,19%, atau sekitar €22 juta per tahun (sekitar Rp385 miliar).
Penundaan Pelunasan Demi Stabilitas Finansial
Sebelumnya, utang ini dijadwalkan lunas pada 2028. Namun, dengan renovasi Camp Nou yang mengalami keterlambatan minimal 10 bulan dan
diperkirakan baru rampung pada 2027, restrukturisasi ini memberi Barcelona waktu untuk memulihkan salah satu sumber pemasukan terbesarnya.
Presiden Joan Laporta menjadikan penataan ulang utang sebagai strategi utama dalam masa jabatannya yang kedua.
Baca Juga: Gantikan Thomas Frank, Keith Andrews Siap Hadapi Tantangan di Brentford
Namun, langkah ini mendapat sorotan dari pihak oposisi yang menilai Barcelona masih berada dalam kondisi keuangan yang rentan, dengan risiko membengkaknya beban bunga dalam jangka panjang.
Langkah Barcelona menerbitkan obligasi jangka panjang senilai Rp7,42 triliun menjadi upaya terbaru dalam menghadapi krisis keuangan klub.
Meski memberi napas tambahan, keputusan ini menyisakan pertanyaan besar tentang kemampuan klub membayar kewajiban hingga 2050, di tengah tekanan ekonomi dan performa tim yang berfluktuasi.(rak)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan