RADAR SURABAYA- Dalam beberapa minggu, hari, hingga jam sebelum Manchester United menghadapi Tottenham di final Liga Europa, pesan dari dalam Old Trafford tetap konsisten: menang atau kalah, klub akan tetap mendukung Ruben Amorim.
Mereka berharap tidak akan dipaksa untuk mengungkapkan pandangan pribadi tersebut ke publik.
Namun, itulah yang justru dilakukan Amorim dalam pernyataan tegasnya pada akhir konferensi pers pascapertandingan setelah kekalahan 0-1 dari Tottenham di Bilbao, Kamis (22/5) dini hari WIB.
Amorim memulai pernyataannya dengan kalimat sederhana, “Saya tidak akan berbicara tentang masa depan.” Namun, akhirnya ia melakukan hal itu ketika ditanya mengenai kata-kata penghiburan
apa yang dapat ia sampaikan kepada para pendukung setelah musim yang begitu mengecewakan.
“Saya tidak punya apa-apa untuk ditunjukkan kepada para penggemar,” katanya. “Jadi, saat ini, yang tersisa hanyalah sedikit keyakinan.
“Kita lihat saja nanti. Saya selalu terbuka. Jika dewan direksi dan para penggemar merasa saya bukan orang yang tepat, saya akan pergi keesokan harinya tanpa membicarakan kompensasi.
“Tetapi saya tidak akan menyerah. Saya benar-benar yakin dengan pekerjaan saya. Dan seperti yang Anda lihat, saya tidak akan mengubah apa pun dalam cara saya bekerja.”
Reaksi awal dari para petinggi di Old Trafford terhadap pernyataan Amorim cukup sederhana, dukungan terhadap Amorim yang sudah diungkapkan sebelum pertandingan tetap berlaku.
Mereka percaya bahwa para pendukung pun memiliki pandangan serupa, dan berharap mereka akan menyanyikan nama Amorim dengan lebih
lantang pada hari Minggu saat United menghadapi Aston Villa, tim yang masih menyimpan harapan untuk lolos ke Liga Champions musim depan.
Amorim sempat mengatakan bahwa United memiliki “dua rencana” untuk menyambut bursa transfer musim panas ini.
Baca Juga: Tottenham Akhirnya Angkat Trofi! 17 Tahun Menunggu, MU Tumbang di Final Liga Europa 2025!
Namun, rencana paling ambisius dari semuanya kini tampaknya harus dibuang ke tempat sampah.
Tidak akan ada pemasukan £100 juta (gagal bermain di Liga Champions) yang bisa meredakan rasa sakit dari musim yang buruk ini.
Untuk kedua kalinya sejak klub-klub Inggris kembali ke kompetisi Eropa pada 1990, tidak akan ada kampanye kontinental yang perlu direncanakan, tidak ada daya tarik kompetisi elite untuk memikat pemain incaran.
Jika sebelumnya Sir Jim Ratcliffe hanya fokus pada efisiensi biaya, kini pengeluaran klub akan dinilai dengan lebih ketat.
Ketertarikan terhadap penyerang Wolves, Matheus Cunha, cukup tinggi. Setidaknya, ia memiliki catatan mencetak gol di Liga Primer.
Dari skuad saat ini, hanya sang kapten, Bruno Fernandes, yang juga memilikinya. Pencarian penyerang tajam menjadi prioritas setelah kekalahan di Bilbao.
Untuk ke-15 kalinya musim ini, atau ke-11 kalinya dalam 33 pertandingan terakhir, atau ketiga kalinya secara beruntun, United gagal mencetak gol.
“Jelas kami tim yang lebih baik, tetapi kami kembali gagal mencetak gol,” kata Amorim.
“Ada sejumlah pertandingan musim ini di mana kami tidak menciptakan peluang. Tapi ini bukan salah satunya.
“Ini bukan soal satu orang. Ini menyangkut beberapa pemain.”
Minggu lalu, ketika Amorim berkata, “kita harus berani”, ia berbicara tentang seluruh klub.
Tetapi apa makna spesifik dari keberanian itu?
Rasmus Højlund pernah digambarkan sebagai “pemain Championship” oleh seseorang yang pernah berada di ruang ganti pada era akhir Sir Alex Ferguson. Itu pernyataan yang kejam, tetapi bisa jadi tidak sepenuhnya keliru.
Mason Mount tampil fasih saat konferensi pers jelang laga, tetapi namanya bahkan tidak disebut saat pertandingan di Spanyol Utara.
Amad Diallo sempat memberi ancaman, tetapi hasil akhirnya kurang maksimal. Tottenham beruntung dalam proses terciptanya gol, tetapi setelah unggul, mereka tidak pernah benar-benar terlihat akan kehilangan kendali.
“Saya selalu jujur kepada kalian,” ujar Amorim. “Malam ini, kita harus menerima rasa sakit karena kekalahan ini.”
Tugas berikutnya adalah menghadapi Aston Villa yang mengejar posisi di Liga Champions, lalu dua pertandingan di Asia yang ditargetkan dapat menghasilkan pendapatan sekitar £10 juta, sumber dana yang sangat dibutuhkan klub.
Kelompok pendukung terkemuka telah lama mengancam akan melakukan protes dalam laga kontra Villa, bahkan sebelum kekalahan terbaru yang semakin menurunkan moral tim.
Amorim kini harus menyatukan kembali para pemainnya, secara emosional maupun visual.
Saat Tottenham merayakan kemenangan, para pemain United terlihat terpisah satu sama lain. Andre Onana terduduk di area penalti, Harry Maguire berdiri jauh di sisi lapangan, Alejandro Garnacho tampak tak terhibur di dekat garis tengah.
Amorim mondar-mandir seperti biasa, menunduk menatap tanah.
Dari kelompok yang tercerai-berai ini, Amorim harus membangun sebuah tim yang mampu mengembalikan martabat klub besar yang mereka wakili.
Dukungan masih ada. Tetapi, sampai kapan?
Amorim hanya mencatat enam kemenangan di Liga Primer, dan setengah dari kemenangan itu diraih atas tim-tim yang sudah terdegradasi.
Ada gema dari musim 2021–2022, musim yang dimulai di bawah Ole Gunnar Solskjaer dengan kondisi yang lebih sehat daripada sekarang.
Namun, setelah kekalahan di final Liga Europa 2021 lewat adu penalti dari Villarreal, pelatih asal Norwegia itu tidak lagi punya perlindungan saat hasil menurun selama periode lima minggu yang menghancurkan sejak pertengahan Oktober.
Amorim kini harus membuat sejumlah keputusan besar, beberapa di antaranya cukup sulit.
Victor Lindelöf dan Christian Eriksen hampir pasti akan hengkang setelah Minggu karena kontrak mereka berakhir pada 30 Juni.
Masa depan Alejandro Garnacho masih menjadi bahan perdebatan. Hal serupa berlaku untuk Kobbie Mainoo. Bruno Fernandes menjadi incaran klub-klub Liga Pro Saudi, meskipun United menyatakan tidak berniat menjualnya.
Namun, dari semua pemain tersebut, berapa banyak yang akan diberi label “tidak dijual” oleh Amorim? Bisa jadi, tidak banyak.
Ia sadar tidak bisa mengganti 20 pemain sekaligus lalu mendatangkan 20 pemain baru yang lebih cocok dengan gaya bermainnya.
Jadi, ia harus mengandalkan beberapa pemain yang tampil di Bilbao. Dan faktanya, mereka memang tidak cukup bagus.(rak)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan