RADAR SURABAYA - Manchester City menelan kekalahan menyakitkan dari Crystal Palace di final Piala FA 2025.
Kekalahan ini bukan hanya mengakhiri musim tanpa trofi, tetapi juga memunculkan tanda tanya besar: apakah era dominasi City di bawah Pep Guardiola mulai menemui ujungnya?
Kekalahan Menyakitkan yang Merangkum Musim City
Di Stadion Wembley, City tampil dengan dominasi penguasaan bola seperti biasa. Namun, permainan mereka jauh dari kata tajam.
Minimnya peluang bersih, buruknya penyelesaian akhir, dan kurangnya determinasi menjadi pemandangan yang mengkhawatirkan.
“Kami menguasai bola, tapi tidak mengontrol permainan. Itu dua hal yang berbeda,” ujar Guardiola dalam konferensi pers pasca-pertandingan.
“Kami kehilangan efisiensi dan determinasi di sepertiga akhir. Mereka (Crystal Palace) bermain dengan keberanian, dan mereka layak menang.”
Pertandingan ini juga menyisakan rasa getir karena kemungkinan menjadi laga terakhir bagi Kevin De Bruyne.
Gelandang asal Belgia itu hanya bermain setengah babak sebelum digantikan, dan tampak emosional meninggalkan lapangan.
“Kevin telah memberi banyak untuk klub ini. Apa pun keputusan yang ia buat nanti, ia akan tetap menjadi legenda,” kata Guardiola mengenai masa depan sang playmaker.
Bernardo Silva, yang juga digosipkan akan hengkang, tidak tampil dalam performa terbaiknya. Keduanya kini masuk dalam daftar pemain yang bisa meninggalkan klub musim panas nanti.
Haaland Gagal Penuhi Ekspektasi
Erling Haaland kembali melempem di Wembley. Ini menjadi laga kedelapan di mana ia gagal mencetak gol di final bersama Manchester City.
Bahkan, saat City mendapatkan penalti, Haaland menyerahkannya kepada Omar Marmoush yang kemudian gagal menuntaskan tugas.
“Saya tidak akan menyalahkan siapa pun. Pemain kami cukup dewasa untuk membuat keputusan di lapangan,” ujar Guardiola, mencoba meredam kritik terhadap Haaland.
Namun, publik tetap mempertanyakan keputusan Haaland melepas tanggung jawab di momen penting. Sebagai striker utama, ia diharapkan bisa memimpin dengan memberi contoh.
Dengan kekalahan ini, Manchester City kembali gagal merebut Piala FA untuk musim kedua berturut-turut, setelah sebelumnya dikalahkan Manchester United.
Guardiola terlihat kesal di pinggir lapangan. Bahkan, kamera sempat menangkap momen panas ketika ia berbicara tajam kepada kiper Palace, Dean Henderson, setelah peluit akhir berbunyi.
Meski tak dijelaskan secara resmi, diduga insiden handball yang tidak diberi penalti jadi pemicu emosinya.
Fokus Baru: Amankan Tiket Liga Champions
Kini, fokus City beralih ke Liga Primer Inggris. Mereka akan menghadapi Bournemouth dalam laga penting untuk menjaga peluang lolos ke Liga Champions.
Saat ini, The Citizens berada di posisi keenam klasemen dan harus mengejar poin agar bisa menembus lima besar.
“Musim belum selesai. Kami harus bangkit dan menyelesaikannya dengan harga diri. Kami masih punya target: lolos ke Liga Champions,” tegas Guardiola.
Dengan De Bruyne di ambang kepergian, performa Haaland yang inkonsisten, dan Guardiola yang terlihat frustrasi, publik mulai bertanya: apakah ini awal dari masa transisi bagi Manchester City?
Kekalahan dari Crystal Palace bisa jadi lebih dari sekadar kegagalan di final. Ia bisa menandai akhir dari sebuah era, dan awal dari tantangan baru bagi klub yang selama ini mendominasi sepak bola Inggris.(rak)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan