RADAR SURABAYA - Crystal Palace mencetak sejarah dengan menjuarai Piala FA setelah mengalahkan Manchester City dalam laga final yang dramatis.
Gol Eberechi Eze di babak pertama terbukti menjadi penentu kemenangan atas The Citizens, menjadikan ini kali ketiga Palace berhasil setelah sebelumnya kalah dalam dua final Piala FA sebelumnya.
Meskipun City mendominasi penguasaan bola dengan 78 persen, Palace menunjukkan efisiensi luar biasa dalam bertahan dan menyerang.
Momen penting terjadi ketika Dean Henderson melakukan penyelamatan krusial terhadap tendangan penalti Omar Marmoush.
Aksi ini menjadikannya penjaga gawang pertama yang menyelamatkan penalti di final Piala FA—di luar adu penalti—sejak Petr Cech pada 2010 ketika membela Chelsea melawan Portsmouth.
Kreativitas Eberechi Eze kembali jadi kunci kemenangan Palace. Ia tampil gemilang di momen-momen penting, memberikan keseimbangan di lini tengah dan memimpin serangan balik yang berbahaya.
Selain Eze, Daniel Munoz juga menjadi salah satu bintang lapangan dengan kontribusi signifikan di sektor pertahanan dan transisi permainan.
Meski harus melewati 10 menit tambahan yang menegangkan, para penggemar Palace akhirnya bisa menghapus kenangan pahit kekalahan di final tahun 1990 dan 2016.
Tangis haru pun pecah di lapangan dan tribun stadion ketika peluit panjang dibunyikan.
Manajer Oliver Glasner tetap tenang dalam merayakan kemenangan bersejarah ini. Pendekatan manajemennya yang terukur tampak membuahkan hasil manis, mengantar Palace meraih trofi bergengsi untuk pertama kalinya.
Kemenangan ini bukan sekadar gelar, tetapi simbol kebangkitan Crystal Palace di panggung tertinggi sepak bola Inggris.(rak)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan