RADAR SURABAYA- Barcelona resmi menjadi juara La Liga musim 2024/2025 setelah mengalahkan Espanyol dengan skor 2-0 pada Jumat (16/5).
Kemenangan ini memastikan tim muda asuhan Hansi Flick mengukir sejarah dengan meraih Treble Winner, setelah sebelumnya mengangkat trofi Copa del Rey pada April lalu, dan Piala Supercoppa Spanyol.
Keberhasilan ini bukan hanya tentang gelar. Ini adalah kemenangan filosofi sepak bola menyerang, kepercayaan terhadap pemain muda, dan kepemimpinan yang segar dari seorang pelatih berpengalaman.
Barcelona juara La Liga kali ini bukan dengan cara biasa, melainkan dengan cara yang memikat para penggemar sepak bola di seluruh dunia.
Pemain Muda Jadi Kunci Sukses Barcelona
Nama-nama seperti Lamine Yamal (17 tahun), Pau Cubarsi (18 tahun), dan Pedri (22 tahun) menjadi simbol revolusi. Mereka tidak hanya bermain bagus—mereka memimpin permainan.
Beberapa pengamat mulai membandingkan generasi ini dengan era keemasan Pep Guardiola (2008–2011).
Meski masih terlalu dini untuk menyebut mereka sebagai "generasi emas" berikutnya, potensinya jelas terlihat.
Fakta bahwa rata-rata usia skuad hanya 25 tahun, terendah di La Liga, menjadi bukti bahwa keterbatasan finansial justru membuka jalan bagi kebangkitan pemain muda.
Dari Krisis Finansial ke Kejayaan di La Liga
Masih segar dalam ingatan bahwa Barcelona sempat kesulitan mendaftarkan pemain baru akibat masalah keuangan.
Namun, krisis itu justru memberi panggung bagi talenta muda untuk bersinar. Dan ketika Hansi Flick tiba, ia tak hanya menyusun strategi, tapi juga membangun kembali mentalitas tim.
Pemain senior seperti Robert Lewandowski, Raphinha, dan Frenkie de Jong sempat kehilangan kepercayaan diri. Flick mengubah itu semua.
Lewandowski kini menjadi top skor tim dengan 25 gol, dan Raphinha mengemas 18 gol—terbaik dalam kariernya di La Liga.
Pendekatan Unik Hansi Flick di Barcelona
Flick menerapkan gaya kepemimpinan yang berbeda: personal, egaliter, dan berfokus pada kepercayaan. Ia memberi ruang kepada pemain muda seperti Gavi, Balde, dan Marc Casado untuk berkembang, bahkan dalam aspek kecil seperti memilih musik di ruang ganti.
Ia juga dikenal tegas dalam hal kedisiplinan. Jules Kounde beberapa kali dicadangkan karena terlambat menghadiri rapat.
Bahkan, pemain harus mengenakan seragam resmi klub saat laga tandang, tanpa pengecualian, termasuk direktur klub.
Lamine Yamal: Bintang Muda yang Dijaga Ketat
Lamine Yamal tampil luar biasa sepanjang musim, tapi Flick berhati-hati. Ia ingin memastikan perkembangan sang pemain tetap seimbang.
Meski menjadi pusat permainan dan haus bola, Yamal tetap diingatkan untuk disiplin, terutama saat tidak menguasai bola.
Dalam El Clasico melawan Real Madrid, Yamal bahkan mencatatkan lebih banyak pemulihan bola daripada bek tengah dan Pedri. Ini menunjukkan bahwa Flick tidak hanya mengandalkan bakat, tapi juga membentuk karakter.
Flick dan Obsesi Akan Ketepatan dan Kesatuan
Flick juga sangat menghargai ketepatan waktu dan kesatuan tim. Tidak hanya itu, ia percaya bahwa pemain adalah pihak yang paling tahu kondisi fisik mereka. Oleh karena itu, rotasi dilakukan atas dasar komunikasi terbuka.
Musim ini, Flick hanya mendatangkan Dani Olmo dan Pau Victor, tanpa aktivitas berarti di bursa musim dingin, sebuah tanda efisiensi sekaligus kepercayaan terhadap skuad yang ada.
Apa Selanjutnya untuk Barcelona dan Flick?
Meskipun Barcelona berhasil menjuarai La Liga, Copa del Rey, dan Piala Supercopa Spanyol. mereka belum sepenuhnya sempurna.
Kebobolan 24 gol dalam 14 laga Liga Champions menunjukkan bahwa keseimbangan antara serangan dan pertahanan masih harus ditingkatkan.
Kontrak Hansi Flick tinggal tersisa satu tahun. Meskipun perpanjangan seharusnya mudah, sang pelatih belum tertarik mengikatkan diri dalam jangka panjang.
Fokus utamanya adalah memperbaiki permainan dan membawa Barcelona ke final Liga Champions musim depan.(rak)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan