RADAR SURABAYA – Mantan Menteri Dalam Negeri Prancis, Gerald Darmanin, akhirnya menyampaikan permintaan maaf kepada para
penggemar Liverpool atas pernyataannya yang sebelumnya menyalahkan mereka atas kekacauan di Stade de France selama final Liga Champions 2022.
Darmanin, yang kini menjabat sebagai Menteri Kehakiman Prancis, mengakui bahwa pengamanan saat pertandingan final antara Liverpool dan Real Madrid tersebut tidak memadai.
Ia juga menyatakan bahwa pernyataan publiknya yang menyalahkan para pendukung Inggris merupakan sebuah kesalahan, sebagaimana dilaporkan media Inggris pada Senin (5/5).
Kericuhan terjadi ketika ribuan penggemar terjebak dalam kerumunan berbahaya di luar Stade de France.
Pertandingan yang seharusnya dimulai tepat waktu itu harus ditunda lebih dari 30 menit. Rekaman video menunjukkan polisi Prancis
menggunakan gas air mata terhadap para suporter, yang saat itu tengah digiring menuju gerbang stadion dan mengeluhkan perlakuan kasar.
Dua hari setelah laga tersebut, Darmanin menggelar konferensi pers bersama sejumlah menteri Prancis lainnya.
Dalam kesempatan itu, ia menyalahkan “penggemar Inggris” dan menyebut kericuhan dipicu oleh banyaknya tiket palsu yang beredar.
Namun kini, Darmanin menarik kembali pernyataan tersebut. Dalam wawancara yang diunggah ke kanal YouTube Legendes Francaises, ia menyebut insiden malam itu sebagai “kegagalan terbesar” dalam karier politiknya.
“Yang tidak saya sadari malam itu adalah bahwa masalah sebenarnya bukan berasal dari penggemar Inggris, melainkan dari penjahat yang merampok mereka,” ujar Darmanin.
“Saya tidak memverifikasi secara menyeluruh apa yang sebenarnya terjadi, dan itu adalah kesalahan saya. Saya terjebak dalam prasangka.
Pelakunya terlihat mudah untuk dituduh, dan saya meminta maaf kepada penggemar Liverpool. Tentu saja mereka punya alasan untuk marah,” tambahnya.
Pada Maret lalu, UEFA kalah dalam upaya membatalkan gugatan hukum yang diajukan oleh ratusan penggemar Liverpool.
Gugatan tersebut terkait dugaan cedera fisik dan trauma yang disebabkan oleh kekacauan menjelang laga final Liga Champions di Paris.
Insiden ini menjadi pelajaran penting bagi otoritas Eropa dan dunia sepak bola internasional dalam menjamin keselamatan serta kenyamanan para suporter di ajang bergengsi seperti Liga Champions.(rak)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan