RADAR SURABAYA – Klub Arab Saudi, Al Ahli akhirnya menorehkan sejarah dengan meraih gelar juara AFC Champions League Elite 2025 usai
menundukkan Kawasaki Frontale 2-0 di final yang berlangsung di Stadion King Abdullah Sports City, Jeddah, Sabtu (3/5) malam.
Gol-gol kemenangan dicetak oleh Galeno dan Franck Kessie pada babak pertama, menutup kampanye tak terkalahkan Al Ahli di kompetisi ini.
Kemenangan ini tidak hanya memberi Al Ahli mahkota Asia pertama mereka, tetapi juga menjadikan mereka klub ke-25 yang berhasil menjuarai kompetisi antarklub tertinggi Asia.
Terakhir kali Asia memiliki juara baru adalah pada 2018 saat Kashima Antlers meraih gelar.
Jaissle: “Kami Tidak Menyerah, Bahkan Saat Dunia Meragukan Kami”
Pelatih Al Ahli, Matthias Jaissle, tidak bisa menyembunyikan emosinya usai peluit akhir berbunyi.
Dikelilingi staf dan pemainnya, Jaissle mengepalkan tinju ke arah ribuan pendukung yang memadati stadion.
“Lima bulan lalu saya hampir pergi. Tapi para pendukung berdiri di belakang saya, dan malam ini adalah milik mereka,” kata Jaissle dalam konferensi pers. “Kami tidak menyerah, bahkan saat dunia meragukan kami.”
Statistik Pertandingan Final AFC Champions League Elite 2025
Al Ahli tampil lebih efektif dalam memanfaatkan peluang. Kolaborasi antara Firmino, Galeno, dan Mahrez di lini depan menjadi mimpi buruk bagi pertahanan Kawasaki.
Kessié dan Galeno: Penentu Gelar
Gol pertama lahir di menit ke-35 saat Galeno memanfaatkan kesalahan lini belakang Kawasaki.
Bersama Roberto Firmino, ia mencetak gol indah ke pojok atas gawang Louis Yamaguchi. Enam menit berselang, Firmino kembali menjadi kreator, mengirim umpan akurat yang disambut sundulan Franck Kessie untuk menggandakan keunggulan.
“Ini momen yang saya impikan sejak datang ke sini,” ujar Kessié. “Kami tahu betapa pentingnya ini untuk klub dan para fans.”
Kawasaki Tak Menyerah, Tapi Gagal Memaksimalkan Peluang
Meskipun tertinggal dua gol, Kawasaki Frontale tetap bermain terbuka dan menciptakan beberapa peluang berbahaya di babak kedua.
Marcinho menjadi pemain paling aktif di lini serang, sementara Yasuto Wakizaka dan Akihiro Ienaga yang kembali dari rotasi tampil penuh semangat.
Pelatih Kawasaki, Shigetoshi Hasebe, tetap memberikan pujian untuk anak asuhnya.
“Saya bangga dengan bagaimana para pemain kami bertarung hingga akhir,” ucap Hasebe. “Kami tidak memiliki bintang internasional, tetapi kami bermain sebagai satu tim.”
Hasebe menambahkan, “Pemain tidak bermain-main dengan kartu kredit mereka di lapangan. Kami tahu tantangan besar ini, tetapi kami tidak menyerah.”
Keuntungan Tuan Rumah dan Investasi Besar Al Ahli
Final ini memunculkan kembali perdebatan tentang keuntungan tuan rumah. Selain waktu istirahat lebih lama dan venue final di Jeddah, Al Ahli juga diperkuat pemain-pemain top dunia
berkat dukungan Dana Investasi Publik (PIF) Arab Saudi. Gaji Riyad Mahrez, misalnya, dilaporkan tiga kali lipat dari total gaji seluruh skuad Kawasaki.
Namun kemenangan ini tetap pantas, mengingat dominasi dan konsistensi Al Ahli sepanjang turnamen.
Mereka menyingkirkan juara Qatar, Al Sadd, dan Al Nassr yang diperkuat Cristiano Ronaldo dalam perjalanan menuju final.
Penebusan Dosa Masa Lalu
Sebelumnya, Al Ahli gagal dalam dua final: tahun 1986 kalah dari Daewoo Royals dan pada 2012 takluk dari Ulsan Hyundai.
Kali ini, dengan segala keunggulan yang mereka miliki, mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan.
Kemenangan ini juga menghindarkan Saudi dari kegagalan di level kontinental dua tahun beruntun setelah Al Hilal dan Al Nassr tersingkir lebih awal.(rak)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan