Dilahirkan dan dibesarkan di Belanda, setelah Piala Dunia FIFA dan Kejuaraan Eropa, yang tidak bisa mereka raih, maka sekarang Olimpiade, yang merupakan kompetisi kelompok umur dalam disiplin sepakbola putra, akan menjadi turnamen paling termasyhur berikutnya yang pernah mereka perjuangkan.
Kuartet ini, sekarang hanya tinggal satu kemenangan lagi untuk mencapai Olimpiade Paris 2024. Dan mereka menjadi legenda.
Dan, jika mereka sampai di Paris nanti, warnanya akan menjadi merah untuk Indonesia, tanah kelahiran nenek moyang mereka bukan oranye untuk Belanda, tanah kelahiran mereka.
Dalam debut luar biasa di Piala Asia AFC U-23, Indonesia telah melampaui ekspektasi untuk mencapai semifinal, meskipun perjalanan impian menjadi juara mereka berakhir pada hari Senin menyusul kekalahan 2-0 dari Uzbekistan.
Kuartet ini sekarang akan menghadapi Irak dalam pertandingan perebutan tempat ketiga pada Kamis, dengan jaminan tempat di Olimpiade Paris, bahkan jika mereka kalah, mereka masih bisa memesan tiket ke Paris melalui playoff antarbenua melawan tim Afrika Guinea akhir bulan ini.
Sebagian besar keberhasilan Indonesia di Piala Asia U-23 tidak lepas dari fokus pada pemain muda yang diprakarsai oleh pelatih Shin Tae-Yong empat tahun lalu, ketika ia memimpin tim raksasa Asia Tenggara yang saat itu sedang lesu.
Sejak kedatangan Shin, Indonesia menjadi runner-up Kejuaraan AFF, turnamen internasional utama di kawasan ini, dan mencapai babak sistem gugur Piala Asia AFC awal tahun ini untuk pertama kalinya, sementara tim U-23 juga tampil baik.
Untuk memenangkan medali emas di Asian Games Tenggara tahun lalu, yang pertama sejak 1991, dan untuk maju ke babak 16 besar Asian Games.
Kunci dari peningkatan timnas Indonesia adalah keberanian untuk memberikan kesempatan bermain di level senior kepada pemain muda.
Talenta-talenta muda seperti Witan Sulaeman, Marselino Ferdinan, dan Rizky Ridho akhirnya sudah malang melintang bersama timnas senior.
Kesediaan untuk mengekspos banyak talenta mereka yang sudah dewasa sebelum waktunya berarti bahwa pemain seperti Witan Sulaeman, Marselino Ferdinan dan Rizky Ridho semuanya adalah pemain berpengalaman meskipun mereka masih muda.
Dan tidak mengherankan jika mereka telah memimpin upaya Indonesia di Piala Asia U-23 2024 ini.
Selain itu pengalaman di Eropa juga sangat membantu.
Perlu dicatat bahwa, alih-alih langsung membagikan paspor kepada impor asing, seperti yang pernah dilakukan Indonesia di masa lalu dengan orang-orang seperti Victor Igbonefo, Marc Klok dan Ilija Spasojevic, upaya “naturalisasi” baru-baru ini berpusat pada individu yang memiliki garis keturunan melalui orang tua atau kakek-nenek mereka, yang memastikan mereka setidaknya memiliki identitas Indonesia.
Dengan kata lain ketika Justin Hubner, Rafael Struick Nathan Tjoe-A-On, dan Ivar Jenner membela tim Merah Putih, mereka bukan pemain asing karena mereka punya darah Indonesia.
Mereka selama ini tinggal di luar negeri dan ingin pulang untuk kembali bermain untuk negeri nenek moyang mereka. Lalu, apa salahnya itu ?.
Struick dan Jenner masing-masing tetap bermain di klub Belanda ADO Den Haag dan Utrecht, sementara Tjoe-A-On juga saat ini berada di Eredivisie dengan status pinjaman di Heerenveen dari Swansea.
Sementara itu, Justin Hubner meninggalkan Belanda dan pindah ke klub Liga Premier Wolves sebagai siswa akademi pada awal tahun 2020, tetapi saat ini dipinjamkan ke klub Liga Jepang Cerezo Osaka.
Ini mungkin tampak seperti proses yang sulit karena tidak ada satupun dari mereka yang mewakili Indonesia di tingkat senior sebelum tahun 2023, namun mereka telah lama diidentifikasi sebagai kandidat potensial melalui program identifikasi bakat asosiasi sepak bola, yang juga mendatangkan pemain kelahiran Eropa lainnya seperti Sandy Walsh dan Shayne Pattynama.
Beberapa hari lalu Maarten Paes juga sudah resmi menjadi WNI. Kiper FC Dallas ini memiliki darah Indonesia dari neneknya yang orang Pare, Kabupaten Kediri.
Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk menunjukkan apa yang bisa mereka tawarkan kepada Indonesia, Rafael Struick, Ivar Jenner dan Justin Hubner semuanya menjadi bagian dari timnas Indonesia yang mencapai babak 16 besar Piala Asia, dan mereka semakin kuat di Piala Asia U-23 23.
Meskipun Rafael Struick dihargai karena tingkat kerjanya sebagai titik fokus dalam serangan, terkadang mengorbankan kemampuannya sendiri untuk mendapatkan yang terbaik bagi Marselino dan Witan di posisi yang lebih dalam.
Struick menunjukkan bahwa dia juga bisa menjadi senjata dengan double yang bagus dalam kejutan.
Termasuk tendangan luar biasa dari jarak 25 yard ke sudut atas gawang Korea Selatan.
Ivar Jenner dan Nathan Tjoe-A-On terlihat tak tergantikan sebagai duet lini tengah Shin Tae-yong.
Upaya tim yang matang yang dimotori oleh Shin, membuat Indonesia tinggal selangkah lagi tampil di Olimpiade untuk pertama kalinya sejak tahun 1938, ketika Indonesia masih Hindia Belanda dan turnamen sepakbola putra di Olimpiade tersebut masih simainkan oleh pemain senior.
Menghadapi Irak, kuartet ini akan berusaha menorehkan sejarah bagi sepakbola Indonesia, bangsa Indonesia, dan keluarga mereka.
Tidak hanya keluarga yang sekarang masih di Belanda tapi juga keluarga nenek moyang mereka di Indonesia.
Sekali lagi mereka ini bukanlah orang asing, tapi anak bangsa yang ingin pulang membawa kejayaan untuk Indonesia. (rak)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan