RADAR SURABAYA – Bek Napoli Juan Jesus yang merasa jadi korban rasisme oleh Francesco Acerbi merasa kecewa karena Acerbi tidak dihukum.
Pemain berdarah Brasil itu tak habis pikir oleh putusan pengadilan olahraga yang membebaskan Francesco Acerbi dalam kasus pelecehan rasial kepada dirinya.
Jesus menilai putusan tersebut tidak adil karena merasa sudah dilecehkan secara rasial oleh bek Inter Milan itu.
Selasa (26/3/2024), pengadilan olahraga menyatakan Acerbi bebas dari segala tuduhan.
Sebelumnya, dia diduga telah melakukan penghinaan rasial kepada Jesus saat Inter bersua Napoli pada 17 Maret.
Gara-gara hal itu, Acerbi lantas dicoret dari skuad timnas Italia dan menghadapi sanksi tambahan. Namun, dia akhirnya bisa bernapas lega.
Sebaliknya, bagi Juan Jesus, putusan itu bak pil pahit. “Aku sudah berulang kali membaca putusan pengadilan olahraga dengan sangat kecewa.
Mereka menyatakan tak ada bukti aku jadi korban penghinaan rasial saat pertandingan,” kata Jesus dikutip dari Tuttomercatoweb.
Bek berumur 32 tahun itu lebih lanjut mengungkapkan kekecewaannya. “Aku menghormati putusan itu. Namun, sangat sulit bagiku menerima dan memahami putusan ini dan aku merasa sangat getir,” ucap bek yang juga pernah membela Inter pada 2012 hingga 2016 tersebut.
Setelah pengadilan olahraga mengeluarkan putusannya, Juan Jesus menyesal telah bersikap jantan dan legawa saat menghadapi Francesco Acerbi pada insiden di Stadio Giuseppe Meazza, 17 Maret silam.
Saat itu, dia tak mempermasalahkan lebih jauh begitu Acerbi meminta maaf setelah pertandingan. Dia berharap bisa menjadi teladan.
“Sejujurnya, aku kecewa oleh insiden serius ini dan satu-satunya kesalahan adalah aku menyikapinya secara jantan, memutuskan tak mengganggu pertandingan penting dengan semua ketidaknyamanan yang akan ditimbulkan kepada para penonton. Aku melakukan itu dengan keyakinan hal itu akan dihargai dan mungkin dianggap sebagai contoh,” ucap Jesus lagi.
Harapan tinggal harapan. Kini, Jesus menengarai putusan pengadilan olahraga yang membebaskan Acerbi bisa menimbulkan aksi berbeda.
“Aku bisa membayangkan orang yang mengalami situasi yang sama nanti akan bereaksi berbeda demi menjada diri dan melawan rasialisme,” tambahnya.
Bagi Jesus, putusan yang memihak Acerbi adalah bukti perjuangan menghapus rasialisme masih jauh dari kata usai.
Para pemain seperti dirinya pun masih belum bisa mengharapkan perlindungan nyata dari orang-orang rasialis.
Ke depannya, dia berharap berbagai pihak bisa lebih serius dalam menanggapi kasus-kasus rasialisme.
Napoli sebelumnya mengungkapkan keheranan mereka atas keputusan FIGC, sementara Acerbi menghadapi potensi hukuman skors 10 pertandingan yang dapat membuatnya absen dari Piala Eropa 2024.
Jesus awalnya menjelaskan bahwa Acerbi menyadari kesalahannya dan meminta maaf setelah insiden tersebut. Namun, komentar-komentar Acerbi setelahnya memicu kemarahan Jesus.
"Saya pikir masalah itu telah selesai di lapangan, tetapi komentar Acerbi yang bertentangan dengan kejadian yang sebenarnya membuat saya yakin bahwa rasisme harus diberantas sekarang," tegas Jesus.(rak)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan