RADAR SURABAYA - Menikmati secangkir kopi di kafe biasanya identik dengan bangunan modern dan interior kekinian. Namun, suasana berbeda justru ditawarkan Omahe Mbah Giyo. Kedai kopi di Gubeng Kertajaya, Surabaya, itu memanfaatkan rumah keluarga era 1950-an sebagai tempat nongkrong.
Usaha rintisan pasangan suami istri Johanes Budi dan Yayuk Purba Lie tersebut mengubah sebagian ruang rumah induk keluarga menjadi kedai kopi yang berada di tengah permukiman. Bangunan rumah sengaja dipertahankan agar pengunjung mendapatkan suasana yang lebih hangat dan akrab.
Baca Juga: 11 Remaja Diamankan Hendak Tawuran di Kedung Cowek Surabaya, Sempat Kabur saat Dihalau
Bahkan, nama Omahe Mbah Giyo memiliki cerita tersendiri. Nama tersebut diambil dari nama almarhum ayah Johanes.
“Saya ingin kalau orang ke sini serasa pulang, konsepnya rumah. Kami juga memanfaatkan space karena masih tinggal di sini. Ini rumah dari orang tua, rumah induk, yang kami tempati berdua,” kata Johanes Budi.
Menurut Johanes, sebelum membuka Omahe Mbah Giyo, dirinya bersama sang istri juga pernah mengelola warung kopi. Pada 2014, usaha tersebut bahkan sempat meraih juara dalam sebuah ajang yang digelar perusahaan rokok.
Omahe Mbah Giyo sendiri mulai dibuka sekitar 2017. Saat itu, keberadaan kedai kopi di tengah kampung masih menjadi sesuatu yang tidak biasa.
“Awal buka dulu jadi tontonan warga. Saat itu warga masih belum terbiasa ada tempat ngopi di tengah permukiman,” ujarnya.
Rumah tersebut merupakan bangunan era 1950-an yang memiliki karakter arsitektur lama. Gaya bangunan pada periode tersebut kerap dikaitkan dengan arsitektur jengki yang berkembang di Indonesia.
Untuk menyesuaikan fungsi sebagai kedai kopi, Johanes dan Yayuk tidak banyak menghilangkan karakter asli rumah. Ruang tamu keluarga dijadikan sebagai ruang utama kedai.
Baca Juga: Peringati Harhubnas 2026: Trans Jatim Gratis Hari Ini, Cek Koridor yang Berlaku
Sedangkan bar, memanfaatkan salah satu kamar yang telah dibobol. Berbagai koleksi barang lawas digunakan sebagai elemen dekorasi. Seperti setrika arang, penggiling daging hingga mesin jahit.
“Barang lama masih terpakai itu banyak. Ada pernak-pernik, meja tulis almarhum bapak. Dua meja saya jadikan satu, ada mesin jahit. Kaki mesin jahit saya buat jadi meja, ada meja buffet,” tutur Johanes.
Bagi Yayuk, mempertahankan usaha di tengah permukiman tidak hanya membutuhkan modal. Mental dan dukungan pasangan juga menjadi bagian penting dalam melewati masa-masa awal merintis usaha.
Ia mengaku, membuka kedai di dalam gang bukan perkara mudah. Apalagi, pada awal berdiri, masyarakat sekitar belum terbiasa melihat aktivitas kedai kopi di lingkungan tempat tinggal.
“Dulu empat bulan saya pura-pura mencatat di meja depan supaya kelihatan sibuk. Karena warung di dalam kampung tidak biasa. Butuh mental,” ungkap Yayuk.
Seiring berjalannya waktu, keduanya terus mengembangkan produk dan menu yang ditawarkan. Keyakinan terhadap produk menjadi salah satu modal untuk mempertahankan Omahe Mbah Giyo hingga kini. (sam)
Editor : Lambertus Hurek