RADAR SURABAYA – Tiket konser mahal yang ludes dalam hitungan menit tidak selalu menjadi bukti daya beli masyarakat Indonesia sedang meningkat.
Fenomena tersebut justru lebih banyak dipengaruhi fanatisme dan loyalitas penggemar terhadap artis idola.
Guru Besar Bidang Perilaku Konsumen Berkelanjutan Universitas Airlangga (Unair)
Prof. Dr. Gancar Candra Premananto, CESGI, QCRO, AIBIZ, menilai tiket konser yang cepat habis tidak dapat dijadikan gambaran kondisi ekonomi masyarakat secara keseluruhan.
Menurut Gancar, sebagian penggemar menjadikan konser sebagai prioritas pengeluaran.
Mereka bahkan rela berhemat atau mencari sumber pembiayaan lain demi menyaksikan artis kesayangan secara langsung.
Baca Juga: Tiga Atlet Triathlon Jatim Siap Sumbang Medali di Asian Games 2026
“Bukan masalah daya beli tinggi, tetapi lebih karena fanatisme tinggi dari para penggemar yang menjadikan mereka rela melakukan
berbagai hal agar bisa membeli tiket, seperti berhemat hingga memanfaatkan pinjaman online (pinjol),” ujarnya.
Konser Jadi Bentuk Self-Reward
Bagi penggemar, menonton konser dapat menjadi bentuk self-reward. Kesempatan menyaksikan artis idola secara langsung juga dianggap istimewa karena konser tertentu belum tentu digelar setiap tahun.
“Pertunjukan yang belum tentu terjadi setahun sekali tersebut layak menjadi prioritas untuk membahagiakan diri,” imbuhnya.
Gancar menyebut perilaku tersebut sebagai short-term orientation, yakni kecenderungan konsumen mengejar kebahagiaan dalam jangka pendek di tengah ketidakpastian ekonomi jangka panjang.
“Konsumsi tiket hiburan mahal dikategorikan sebagai pemenuhan kebutuhan tersier.
Mengingat perekonomian jangka panjang penuh dengan ketidakpastian, konsumen memilih untuk membahagiakan dirinya dalam jangka pendek,” jelasnya.
Sold Out Tiket Konser Tak Gambarkan Ekonomi Nasional
Fenomena tiket konser sold out juga dapat menciptakan persepsi semu mengenai daya beli masyarakat.
Baca Juga: Menkeu Baru Suahasil Nazara Ungkap Pesan Pertama dari Prabowo
Di media sosial, tiket yang habis dalam waktu singkat kerap dianggap sebagai bukti kondisi ekonomi sedang baik.
Padahal, penonton konser berasal dari segmen konsumen tertentu.
Kapasitas stadion besar seperti Gelora Bung Karno (GBK) atau Jakarta International Stadium (JIS) yang mencapai 70 hingga 80 ribu orang pun tidak sampai 1 persen dari total penduduk Indonesia.
Karena itu, indikator seperti inflasi, tingkat pengangguran, pertumbuhan ekonomi, dan indikator makro lainnya tetap diperlukan untuk melihat kondisi perekonomian secara utuh.
Di sisi lain, konser tetap memberikan dampak ekonomi. Ribuan penonton dapat meningkatkan aktivitas transportasi, akomodasi, kuliner, perdagangan, dan pariwisata di daerah penyelenggaraan.
Namun, dampak tersebut cenderung sporadis dan tidak otomatis menunjukkan peningkatan daya beli masyarakat secara luas.
Gancar mengingatkan masyarakat agar tren self-reward tidak mengorbankan perencanaan keuangan jangka panjang.
“Sosialisasi dan literasi berinvestasi untuk produk-produk primer dan sekunder jangka panjang tetap perlu diperhatikan dan disikapi secara serius oleh masyarakat,” pungkasnya. (dim)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan