RADAR SURABAYA – Edukasi tentang lingkungan perlu dikenalkan sejak usia dini agar kebiasaan menjaga bumi dapat tumbuh dalam kehidupan sehari-hari.
Berangkat dari persoalan tersebut, mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menghadirkan inovasi edukasi
melalui buku ilustrasi interaktif yang mengajak anak mengenal konsep 5R dan gaya hidup zero waste.
Karya tersebut dibuat oleh Tabitha Ayu Putri Ning Bestari, mahasiswa D4 Desain Grafis Unesa.
Ia menciptakan buku ilustrasi interaktif berjudul Zuan dan Wony: Petualangan 5R sebagai media untuk mengenalkan prinsip pengurangan sampah kepada siswa sekolah dasar.
Buku ini mengemas isu lingkungan yang dinilai cukup kompleks menjadi cerita dan petualangan visual yang lebih dekat dengan dunia anak.
Zuan dan Wony Ajak Anak Mengenal Konsep 5R
Dalam buku tersebut, anak-anak diajak mengikuti petualangan dua tokoh utama, Zuan dan Wony.
Melalui kedua karakter itu, pembaca diperkenalkan pada lima prinsip pengelolaan sampah atau 5R, yakni Refuse, Reduce, Reuse, Recycle, dan Rot.
Tabitha mengatakan, desain grafis dapat menjadi sarana untuk menyederhanakan persoalan lingkungan sehingga lebih mudah dipahami anak.
“Desain grafis memiliki kekuatan luar biasa untuk menyederhanakan isu ekologi yang kompleks menjadi petualangan visual yang taktil dan mudah dipahami oleh kognisi anak-anak,” ujar Tabitha, Minggu (16/8).
Konsep tersebut membuat pesan tentang lingkungan tidak hanya disampaikan melalui teks, tetapi juga melalui ilustrasi dan aktivitas interaktif.
Dilengkapi QR Code dan Permainan Edukatif
Salah satu keunggulan Zuan dan Wony: Petualangan 5R adalah penggunaan media interaktif.
Buku tersebut memadukan halaman fisik yang dapat dibuka-tutup dengan kode QR yang terhubung ke konten digital berupa permainan edukatif.
Baca Juga: Instruksi Gubernur Khofifah, BPBD Jatim Kirim Tim Reaksi Cepat ke Flores NTT
Dengan konsep tersebut, anak-anak dapat belajar melalui berbagai pengalaman, mulai dari membaca, menyentuh, hingga mengeksplorasi materi menggunakan perangkat digital.
“Pendekatan ini membuat pembelajaran lebih variatif, mulai dari membaca, menyentuh, hingga mengeksplorasi melalui perangkat digital.
Semua bertujuan memperkuat pemahaman tentang memilah, mengurangi, dan memanfaatkan kembali barang yang masih layak pakai,” jelasnya.
Pendekatan interaktif tersebut diharapkan dapat membantu anak memahami bahwa menjaga lingkungan dapat dilakukan melalui kebiasaan sederhana.
Kampanye Zero Waste Menyasar Kehidupan Sehari-hari
Tidak berhenti pada buku, Tabitha juga mengembangkan sejumlah media pendukung untuk memperkuat pesan kampanye zero waste untuk anak.
Paket kampanye tersebut mencakup video animasi motion graphic, konten media sosial, serta sejumlah produk turunan, seperti tas bekal dan perangkat berkebun sederhana.
Berbagai media tersebut dirancang agar konsep pengurangan sampah dapat diterapkan melalui aktivitas yang dekat dengan kehidupan anak.
Dengan demikian, edukasi lingkungan tidak hanya berhenti pada pengetahuan, tetapi diharapkan berkembang menjadi kebiasaan.
Desain Grafis sebagai Media Edukasi Lingkungan
Melalui Zuan dan Wony: Petualangan 5R, Tabitha ingin menunjukkan bahwa desain grafis tidak hanya berkaitan dengan aspek visual.
Desain juga dapat dimanfaatkan sebagai media komunikasi untuk menyampaikan isu sosial dan lingkungan.
Ia berharap karya tersebut dapat menumbuhkan kesadaran anak mengenai pentingnya menjaga lingkungan sejak dini.
“Karya ini menjadi bukti bahwa desain bukan sekadar keindahan visual, melainkan sarana yang mampu mendorong perubahan perilaku menuju kehidupan yang lebih berkelanjutan,” pungkasnya. (rmt)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan