RADAR SURABAYA – Penggunaan gawai secara berlebihan menjadi salah satu faktor yang dapat mempersempit interaksi sosial dan memicu rasa kesepian, terutama di kalangan Generasi Z.
Rutinitas kuliah, pulang ke kos, lalu menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar berpotensi membuat hubungan sosial semakin dangkal.
Psikolog sekaligus Dekan Fakultas Psikologi Unesa, Diana Rahmasari, mengingatkan bahwa kesepian yang berlangsung terus-menerus tidak boleh dianggap sepele.
Kondisi tersebut dapat berdampak pada kesehatan mental, mulai dari kecemasan, stres, hingga depresi.
“Kita ini adalah makhluk sosial yang pada dasarnya tetap membutuhkan kehadiran orang lain.
Tanpa adanya hubungan yang bermakna dengan sesama, potensi untuk merasakan kesepian itu akan selalu ada,” ujar Diana, Jumat (14/8).
Kesepian Bisa Berdampak pada Kesehatan Mental
Diana menyebutkan, berdasarkan data yang dikutipnya, sekitar 62 persen masyarakat Indonesia pernah merasakan kesepian dalam hidupnya.
Perasaan tersebut dapat ditandai dengan munculnya rasa tidak berharga, pesimistis, serta pikiran negatif terhadap diri sendiri maupun lingkungan.
Jika tidak ditangani, kesepian berkepanjangan dapat meningkatkan risiko gangguan kecemasan, stres, dan depresi.
Karena itu, individu perlu mengenali tanda-tanda kesepian dan segera membangun kembali hubungan sosial yang sehat.
Menurut Diana, penyebab kesepian tidak selalu berasal dari lingkungan.
Kebiasaan menarik diri dari pergaulan dan merasa cukup dengan interaksi melalui dunia maya juga dapat memperkuat rasa terisolasi.
“Sering kali justru kitalah yang menciptakan rasa kesepian itu sendiri. Hal ini terjadi karena kita memilih untuk menarik diri dan merasa sudah cukup puas hanya dengan berinteraksi di dalam dunia maya melalui gawai kita,” ungkapnya.
Teknologi Harus Dikendalikan
Diana menilai teknologi seharusnya digunakan sebagai alat bantu, bukan menjadi pengendali kehidupan.
Penggunaan gawai perlu diatur agar tidak mengorbankan interaksi secara langsung.
“Kita adalah rajanya diri kita sendiri, termasuk dalam hal mengatur dan mengontrol penggunaan gawai. Jangan sampai terbalik, kita yang justru dikendalikan oleh teknologi,” tegasnya.
Di tengah tingginya penggunaan teknologi, Indonesia sebenarnya memiliki modal sosial yang dapat menjadi kekuatan untuk menghadapi kesepian.
Budaya gotong royong, kebersamaan di lingkungan RT/RW, serta kepedulian terhadap sesama menjadi kekuatan yang perlu terus dipertahankan.
Bangun Hubungan yang Bermakna
Diana menyarankan masyarakat tidak perlu memiliki banyak teman untuk menghindari kesepian. Hubungan yang dekat dan bermakna dengan satu atau dua orang dapat memberikan dukungan emosional yang lebih kuat.
Mengikuti kegiatan sosial, bertemu langsung dengan orang lain, serta berani menceritakan perasaan kepada orang yang dipercaya juga dapat menjadi langkah untuk mengatasi kesepian.
“Ketika mulai merasa kesepian, jangan hanya diam dan memendam perasaan itu. Segera cari kegiatan positif, temui orang lain, dan bangunlah hubungan yang hangat.
Karena pada akhirnya, kitalah yang bertanggung jawab sepenuhnya atas kondisi diri kita sendiri,” jelasnya.
Kesepian, lanjut Diana, tidak selalu berarti seseorang hidup sendirian. Orang yang tinggal bersama keluarga pun dapat mengalami kesepian apabila hubungan emosional yang terjalin tidak cukup kuat.
Kelompok lansia juga menjadi salah satu kelompok yang rentan mengalami kesepian. Terbatasnya akses teknologi dan berkurangnya kunjungan keluarga atau kerabat dapat membuat mereka semakin terisolasi.
Karena itu, membangun kembali interaksi sosial secara nyata menjadi langkah penting.
Di tengah perkembangan teknologi, budaya gotong royong dan kebersamaan masyarakat Indonesia dapat menjadi kekuatan untuk menjaga hubungan antarmanusia sekaligus melawan rasa kesepian.(rmt)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan