Jangan Asal Pijat Ini yang Perlu Diperhatikan Penderita Hipertensi

M Firman Syah • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 16:08 WIB
Pijat dapat membantu tubuh lebih rileks, tetapi penderita hipertensi perlu memperhatikan keamanan dan tidak menjadikannya sebagai pengganti pengobatan medis. Foto: Ist.
Pijat dapat membantu tubuh lebih rileks, tetapi penderita hipertensi perlu memperhatikan keamanan dan tidak menjadikannya sebagai pengganti pengobatan medis. Foto: Ist.

RADAR SURABAYA – Pijat kerap dipilih untuk membantu tubuh lebih rileks setelah menjalani aktivitas sehari-hari. Namun, bagi penderita hipertensi, pijat sebaiknya tidak dilakukan secara sembarangan. Kondisi kesehatan, teknik pijat, hingga tekanan yang diberikan perlu diperhatikan untuk menghindari munculnya keluhan.

Hipertensi merupakan kondisi ketika tekanan darah berada di atas batas normal secara terus-menerus. Kondisi ini sering kali tidak menimbulkan gejala yang jelas, tetapi jika tidak dikendalikan dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, seperti penyakit jantung, stroke, dan gangguan ginjal.

Pijat atau akupresur dapat menjadi salah satu aktivitas tambahan untuk membantu tubuh merasa lebih rileks. Beberapa teknik dilakukan dengan memberikan tekanan pada bagian tubuh tertentu. Namun, manfaat relaksasi tersebut tidak berarti pijat dapat menggantikan obat maupun terapi yang diberikan dokter untuk mengendalikan tekanan darah.

Karena itu, penderita hipertensi perlu memperhatikan kondisi tubuh sebelum memutuskan untuk melakukan pijat. Jika tubuh sedang tidak fit atau tekanan darah sedang sulit dikendalikan, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan tenaga kesehatan.

Tekanan saat memijat juga perlu diperhatikan. Pijatan yang terlalu kuat tidak selalu memberikan manfaat lebih baik. Sebaliknya, tekanan berlebihan dapat menimbulkan rasa nyeri atau membuat tubuh semakin tidak nyaman.

Penderita hipertensi dapat memilih teknik dengan tekanan ringan hingga sedang sesuai kondisi tubuh. Jika selama pijat muncul pusing, mual, nyeri, lemas, sesak napas, atau keluhan lain yang tidak biasa, pijatan sebaiknya segera dihentikan.

Pemilihan area pijat juga tidak boleh diabaikan. Hindari memijat bagian tubuh yang sedang mengalami luka, infeksi, pembengkakan, atau cedera. Area leher dan dada juga perlu diperlakukan dengan hati-hati dan tidak diberi tekanan berlebihan.

Selain itu, penderita hipertensi tetap perlu menjalani pengobatan sesuai anjuran dokter. Rasa lebih rileks setelah pijat bukan berarti tekanan darah sudah terkendali atau obat dapat dihentikan. Menghentikan obat secara mandiri justru dapat meningkatkan risiko tekanan darah kembali tidak terkontrol.

Pengendalian hipertensi juga membutuhkan perubahan gaya hidup secara konsisten. Upaya tersebut antara lain membatasi konsumsi garam, memperbanyak konsumsi sayur dan buah, melakukan aktivitas fisik secara rutin, menjaga berat badan, berhenti merokok, membatasi atau menghindari alkohol, serta mengelola stres.

Pemeriksaan tekanan darah secara berkala juga penting dilakukan untuk mengetahui kondisi sebenarnya. Tekanan darah yang tidak menimbulkan gejala bukan berarti selalu berada dalam kondisi aman.

Jika tekanan darah sering tinggi atau sulit dikendalikan, pemeriksaan medis diperlukan untuk menentukan penanganan yang sesuai. Terlebih jika muncul tanda bahaya seperti nyeri dada, sesak napas, sakit kepala hebat, kelemahan atau mati rasa mendadak, gangguan bicara, maupun gangguan penglihatan, penderita sebaiknya segera mendapatkan pertolongan medis.

Dengan demikian, pijat dapat dipandang sebagai aktivitas untuk membantu relaksasi, bukan sebagai terapi utama untuk mengatasi hipertensi. Memperhatikan kondisi tubuh, memilih teknik yang tepat, dan tetap mengikuti pengobatan medis menjadi langkah penting agar aktivitas tersebut tidak justru menimbulkan masalah kesehatan. (rin/fir)

Editor : M Firman Syah
kesehatan jantung pijat tekanan darah tinggi kesehatan hipertensi