Siswa Singapura Belajar Batik Ramah Lingkungan di Namira Eco Print Surabaya

Dimas Mahendra • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 17:00 WIB

 

Siswa Saint Andrew’s School Junior Singapura mengikuti proses pembuatan batik eco print di Namira Eco Print Surabaya. (ABDULLAH MUNIR/RADAR SURABAYA)
Siswa Saint Andrew’s School Junior Singapura mengikuti proses pembuatan batik eco print di Namira Eco Print Surabaya. (ABDULLAH MUNIR/RADAR SURABAYA)

 

RADAR SURABAYA – Suasana berbeda terlihat di Namira Eco Print Surabaya. Sebanyak 25 siswa Saint Andrew’s School Junior Singapura antusias mengikuti proses pembuatan batik eco print. Mereka juga mencoba membuat karya batik sendiri dengan memanfaatkan daun dan bunga sebagai sumber warna alami.

Didampingi tujuh guru, para siswa mengikuti kegiatan tersebut sebagai bagian dari pengalaman belajar di luar sekolah. Guru Saint Andrew’s School Junior, Zuraidah binte Abdul Malik, mengatakan kunjungan tersebut menjadi kesempatan bagi para siswa untuk mengenal lebih dekat teknik eco print dan konsep batik yang ramah lingkungan.

Baca Juga: KONI Jatim Siapkan Ruang Aman bagi Atlet, Kampanye “Ayah Bunda, Anak Laki-lakimu Butuh Kamu” Disuarakan

“Tujuannya untuk memahami eco printing itu apa, kemudian belajar bagaimana daun dan bunga bisa menghasilkan warna di atas kain serta mempelajari seperti apa batik yang ramah lingkungan,” ujar Zuraidah, Selasa (11/8).

Bagi para siswa, pengalaman tersebut tidak berhenti pada materi yang disampaikan instruktur. Mereka juga terlibat langsung dalam proses pembuatan karya. Dengan memanfaatkan daun dan bunga yang telah disiapkan, para siswa mencoba menyusun pola sebelum memprosesnya menjadi motif di atas kain.

Setelah proses pembuatan selesai, hasil karya para siswa rencananya akan dibawa pulang ke Singapura dan menjadi bagian dari pengalaman belajar yang mereka dapatkan selama mengikuti kegiatan.

Zuraidah berharap, pengalaman tersebut dapat memberikan pemahaman baru kepada para siswa mengenai hubungan antara seni, budaya dan lingkungan. Menurutnya, pembelajaran secara langsung membuat siswa lebih mudah memahami bahwa produk ramah lingkungan juga dapat memiliki nilai seni.

Baca Juga: Pemkot Surabaya Amankan Aset, Pedagang Tandes Keluhkan Khawatir Kehilangan Mata Pencaharian

Sementara itu, Owner Namira Eco Print Didik Edy Soesilo mengatakan, pihaknya menyambut baik kedatangan para siswa Saint Andrew’s School Junior.

Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan eco print sebagai salah satu bentuk kreativitas yang memanfaatkan kekayaan alam sekaligus mengenalkan budaya membatik kepada generasi muda dari luar Indonesia.

“Kami senang bisa menjadi bagian dari pengalaman belajar anak-anak dari Singapura. Melalui praktik langsung, mereka tidak hanya mengenal eco print secara teori, tetapi juga bisa merasakan sendiri proses membuatnya,” kata Didik.

Didik menambahkan, penggunaan bahan alami menjadi salah satu hal yang menarik dalam eco print. Daun dan bunga yang biasanya hanya dipandang sebagai bagian dari lingkungan sekitar dapat diolah menjadi motif unik pada kain.

“Harapannya, anak-anak bisa membawa pulang bukan hanya hasil karya, tetapi juga pengalaman dan pengetahuan tentang bagaimana alam bisa dimanfaatkan menjadi karya yang bernilai tanpa mengabaikan aspek lingkungan,” ujarnya.

Kunjungan tersebut pun menjadi pengalaman lintas budaya bagi para siswa. Mereka tidak hanya belajar membuat kain dengan teknik eco print, tetapi juga mengenal salah satu bentuk kreativitas yang berkembang dari kekayaan alam Indonesia. (dim)

Editor : Lambertus Hurek
namira eco print saint andrew school didik edy soesilo bahan alami batik ramah lingkungan