The Lion King Versi Ballet Hipnotis Surabaya, 145 Penari Tampil Spektakuler di Gedung Cak Durasim

Andy Satria • Dipublikasikan Sabtu, 1 Agustus 2026 | 18:37 WIB
MEMUKAU: Pertunjukan The Lion King persembahan Premiere School of Ballet di Gedung Cak Durasim, Sabtu (1/8/2026).
MEMUKAU: Pertunjukan The Lion King persembahan Premiere School of Ballet di Gedung Cak Durasim, Sabtu (1/8/2026).

RADAR SURABAYA – Gedung Cak Durasim Surabaya dipenuhi tepuk tangan panjang saat pertunjukan The Lion King persembahan Premiere School of Ballet berakhir, Sabtu (1/8/2026).

Pementasan yang melibatkan 145 penari dari usia 3 hingga 40 tahun itu menjadi salah satu pertunjukan ballet kolosal terbesar di Surabaya tahun ini sekaligus menandai perayaan 25 tahun perjalanan Premiere School of Ballet.

Baca Juga: Dahulu Gedung Cak Durasim Surabaya adalah Tempat Berkumpulnya Priyayi

Selama hampir dua jam, penonton diajak mengikuti perjalanan hidup Simba melalui rangkaian koreografi yang dipadukan dengan tata artistik megah, permainan cahaya, serta nuansa teatrikal bergaya Broadway.

Berbeda dari adaptasi pada umumnya, produksi ini mengusung pendekatan visual etnik bernuansa Afrika tanpa menghilangkan karakter klasik ballet.

Baca Juga: Belajar Geologi Melalui Musik ala Prof Andang Bachtiar di Gedung Cak Durasim Surabaya.

Principal & Artistic Director Premiere School of Ballet, Sylvi Panggawean, mengatakan proses produksi membutuhkan waktu sekitar enam bulan sejak Februari 2026.

Tantangan terbesar adalah menyatukan gerakan puluhan penari dengan karakter berbeda ke dalam satu adegan yang utuh.

Baca Juga: Cak Durasim, Seniman Sekaligus Tokoh Perjuangan

"Tidak mudah karena dalam satu scene ada beberapa karakter. Kami harus mengajarkan gerakan masing-masing, kemudian menyatukannya menjadi satu adegan besar sesuai alur cerita. Tantangan utamanya memang ada di situ," ujar Sylvi sebelum pertunjukan.

Menurut Sylvi, kisah The Lion King dipilih karena belum pernah dipentaskan sebelumnya oleh Premiere School of Ballet dan memiliki pesan moral yang kuat.

Baca Juga: Ludruk, Berawal dari Pertemanan Cak Durasim dan dr Soetomo

Selain menampilkan kemampuan teknik para penari, cerita tersebut dinilai mampu menyampaikan nilai tentang kepemimpinan, tanggung jawab, serta keberanian menghadapi masa lalu.

Sejumlah adegan berhasil memikat perhatian penonton, mulai dari penampilan Little Simba dan Little Nala yang menghadirkan suasana ceria, hingga adegan kematian Mufasa yang dibawakan dengan ekspresi emosional.

Memasuki babak dewasa, duet Simba dan Nala memperlihatkan teknik ballet yang matang melalui rangkaian pas de deux, lift, dan transisi yang presisi, sementara karakter Timon dan Pumbaa menjadi penyeimbang dengan nuansa komedi yang menghidupkan suasana.

"Pertunjukan ini mengingatkan bahwa seseorang tidak bisa terus-menerus lari dari tanggung jawabnya. Pada akhirnya, kebenaran akan mengalahkan keserakahan dan dukungan keluarga maupun sahabat menjadi kekuatan untuk bangkit menghadapi masa sulit," kata Sylvi.

Melalui produksi The Lion King, Premiere School of Ballet menegaskan komitmennya menghadirkan pertunjukan yang tidak hanya menonjolkan teknik tari, tetapi juga kualitas penceritaan dan pengalaman artistik. Pementasan ini menjadi penanda bahwa seni ballet di Surabaya terus berkembang dengan pendekatan modern yang mampu menjangkau penonton dari berbagai kalangan. (sam/vga)

Editor : Vega Dwi Arista
Sumber : radar surabaya
ballet lion king cak durasim pengunjung pertunjukan