Radar Surabaya – Ungkapan "mata tidak bisa bohong" telah lama dikenal di masyarakat. Banyak orang percaya bahwa sorot mata mampu mengungkapkan perasaan, ketulusan, hingga kebohongan seseorang, meski kata-kata yang diucapkan terdengar meyakinkan. Tak heran, dalam berbagai situasi, mulai dari percakapan sehari-hari hingga proses investigasi, tatapan mata kerap dijadikan petunjuk untuk menilai kejujuran seseorang.
Kepercayaan tersebut muncul karena mata dianggap sebagai bagian tubuh yang sulit dikendalikan secara sadar. Perubahan arah pandangan, pelebaran pupil, hingga frekuensi kedipan sering diyakini sebagai tanda bahwa seseorang sedang menyembunyikan sesuatu. Namun, benarkah anggapan tersebut didukung oleh bukti ilmiah?
Dalam kajian psikologi dan neurosains, para ahli menjelaskan bahwa manusia sebenarnya mampu mengendalikan sebagian besar ekspresi wajah, termasuk arah pandangan dan kontak mata. Karena itu, tidak ada satu gerakan mata yang dapat dijadikan indikator pasti bahwa seseorang sedang berbohong.
Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa kebiasaan menghindari kontak mata tidak selalu berkaitan dengan kebohongan. Seseorang bisa saja mengalihkan pandangan karena merasa gugup, cemas, malu, atau sedang berpikir keras untuk mengingat suatu informasi. Sebaliknya, orang yang sengaja berbohong justru dapat mempertahankan kontak mata lebih lama agar terlihat meyakinkan.
Meski demikian, bukan berarti ekspresi mata sama sekali tidak memiliki makna. Dalam ilmu perilaku nonverbal dikenal istilah micro-expressions atau ekspresi mikro, yakni perubahan ekspresi wajah yang berlangsung sangat singkat, bahkan hanya dalam hitungan milidetik. Ekspresi spontan ini umumnya muncul ketika seseorang mengalami emosi yang kuat, seperti takut, sedih, marah, terkejut, atau merasa bersalah.
Otot-otot di sekitar mata dan dahi sering kali bereaksi secara refleks sebelum seseorang sempat mengendalikan ekspresi wajahnya. Respons inilah yang terkadang membuat orang lain merasa ada sesuatu yang janggal, meskipun mereka tidak dapat menjelaskan secara pasti apa penyebabnya.
Namun, para ahli menegaskan bahwa ekspresi mikro tidak dapat dijadikan bukti tunggal untuk menilai seseorang berbohong. Dalam psikologi forensik, penilaian terhadap kejujuran harus dilakukan dengan melihat berbagai indikator secara bersamaan, seperti bahasa tubuh, intonasi suara, pilihan kata, konsistensi cerita, hingga konteks situasi yang sedang dihadapi.
Di era digital, kemampuan membaca ekspresi mata juga menjadi semakin terbatas. Komunikasi melalui pesan singkat, panggilan video, maupun media sosial membuat interaksi tatap muka berkurang sehingga sinyal nonverbal lebih sulit diamati. Di sisi lain, citra diri yang ditampilkan di ruang digital juga lebih mudah dimanipulasi dibandingkan komunikasi secara langsung.
Karena itu, menilai kejujuran seseorang hanya berdasarkan sorot mata bukanlah cara yang akurat. Mata memang dapat merefleksikan emosi, tetapi bukan "alat pendeteksi kebohongan" yang sempurna. Memahami perbedaan antara mitos dan fakta ilmiah membantu masyarakat lebih bijak dalam menilai orang lain tanpa terburu-buru menarik kesimpulan hanya dari sebuah tatapan. (nor/fir)