Martabak Kotak Surabaya dengan Konsep Berbeda, Tekstur Lebih Lembut

Andy Satria • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 18:20 WIB
Abraham Christopher menunjukkan proses pembuatan martabak kotak buatannya di kawasan Kapas Krampung Surabaya. (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)
Abraham Christopher menunjukkan proses pembuatan martabak kotak buatannya di kawasan Kapas Krampung Surabaya. (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

 

RADAR SURABAYA - Selama ini martabak manis atau terang bulan identik dengan bentuk bulat. Kini hadir martabak kotak yang menawarkan konsep berbeda. Bentuk persegi membuat setiap potongan punya ukuran yang lebih merata.

Inovasi tersebut dihadirkan Mar Kotak Surabaya. Usaha milik Abraham Christopher itu mulai beroperasi sejak 1 Juli lalu. Keunikan bentuknya membuat martabak ini cepat viral di media sosial dan menarik perhatian para pencinta kuliner.

Baca Juga: Bioskop Kalianak Surabaya Hilang Tak Berbekas, Kini Jadi Pasar Tradisional

Abraham mengungkapkan, ide membuat martabak berbentuk kotak berawal dari pengalaman masa kecilnya. Saat menikmati terang bulan bersama saudara, ia kerap merasa ada yang mendapat potongan lebih kecil karena bentuk martabak yang bulat.

"Sejak kecil saya memang suka terang bulan. Dulu saya dan saudara sering saling cemburu karena ada yang mendapat potongan lebih kecil. Dari pengalaman itu akhirnya muncul ide membuat martabak berbentuk kotak agar hasil potongannya lebih merata," ujarnya. 

Ketertarikannya pada kuliner ini juga sudah tumbuh sejak masih duduk di bangku sekolah. Saat memiliki waktu luang, Abraham sering mencoba membuat martabak sendiri. Ide tersebut akhirnya diwujudkan menjadi sebuah usaha kuliner.

Selain menghadirkan bentuk yang berbeda, Mar Kotak Surabaya juga menawarkan berbagai pilihan rasa adonan, mulai dari pandan, red velvet, hingga black forest. Sementara topping tersedia dalam puluhan pilihan. Salah satu menu favorit pelanggan adalah martabak pandan dengan topping pisang.

Baca Juga: Radar Surabaya Awards 2026, Wujud Apresiasi bagi Penggerak Kemajuan Daerah

Tak hanya itu. Abraham juga menciptakan menu unik bernama Black Mamba, yakni martabak berwarna hitam dengan resep khusus. Untuk martabak telur, ia menambahkan cuko atau kuah pempek sebagai pelengkap sehingga menghadirkan cita rasa yang berbeda dari martabak pada umumnya.

Pada masa awal pembukaan, tingginya antusiasme masyarakat membuat pembeli harus mengantre hingga dua sampai tiga jam. Kondisi tersebut terjadi karena jumlah loyang berbentuk kotak masih sangat terbatas dan harus dibuat melalui pemesanan khusus.

"Awalnya memang antreannya sangat panjang karena kami masih kesulitan mendapatkan loyang kotak. Sekarang setelah melakukan pengembangan, waktu tunggu pembeli rata-rata sekitar 30 menit," katanya.

Menurut Abraham, perbedaan utama martabak kotak bukan hanya pada bentuknya. Loyang persegi menghasilkan rongga adonan yang lebih banyak sehingga teksturnya menjadi lebih mengembang dan lembut. Meski menggunakan adonan yang sama, proses pemanggangan dengan loyang berbeda menghasilkan karakter martabak yang berbeda pula.

 Seluruh proses pembuatan dilakukan secara handmade dan memperhatikan kebersihan agar kualitas produk tetap terjaga. (sam)

Editor : Lambertus Hurek
martabak kotak terang bulan martabak telur abraham chrisopher mar kotak surabaya