Bioskop Kalianak Surabaya Hilang Tak Berbekas, Kini Jadi Pasar Tradisional

Lambertus Hurek • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 18:07 WIB

Kawasan pasar tradisional di Kalianak Surabaya. Dulu ada bioskop cukup terkenal. (IST)
Kawasan pasar tradisional di Kalianak Surabaya. Dulu ada bioskop cukup terkenal. (IST)

 

RADAR SURABAYA - Tak banyak generasi muda yang mengetahui jika kawasan Pasar Bioskop atau Gang Bioskop di Kalianak dulunya benar-benar ada gedung bioskop. Kini, kawasan tersebut lebih dikenal sebagai pasar serta pangkalan angkot.

 Padahal, puluhan tahun lalu, tempat itu menjadi salah satu tujuan hiburan murah bagi warga Kalianak dan sekitarnya. Namanya sederhana, Bioskop Kalianak. Jejaknya memang nyaris hilang. Bangunan bekas bioskop itu pernah beralih fungsi, bahkan sempat dimanfaatkan sebagai lapangan futsal.

Baca Juga: Radar Surabaya Awards 2026, Wujud Apresiasi bagi Penggerak Kemajuan Daerah

Pada masanya, Pemerintah Kota Surabaya mengelompokkan bioskop ke dalam beberapa kelas, mulai AA, A, B, C hingga D. Bioskop Kalianak berada di kasta paling bawah, yakni kelas D, yang oleh masyarakat kala itu kerap dijuluki bioskop kelas kambing.

Selain Bioskop Kalianak, hanya ada beberapa bioskop lain yang masuk kategori kelas D, yakni Topan di Sidotopo Wetan, Bintoro di Bangunsari, Karya Abadi di Pucang Sewu, dan Pulo Mas di Pulo Wonokromo.

Bagi Wahyu, warga senior di Kalianak, suasana Bioskop Kalianak masih membekas dalam ingatannya. Menurutnya, kondisi gedung jauh dari kata nyaman jika dibandingkan dengan bioskop-bioskop kelas atas.

"Namanya juga bioskop kelas bawah. Kursinya sederhana, bangunannya juga biasa saja. Yang paling diingat itu kamar mandi atau WC-nya. Pesing sekali, pokoknya parah banget," kenangnya.

Meski fasilitasnya minim, hal itu tak menyurutkan minat masyarakat. Harga tiket yang sangat murah membuat Bioskop Kalianak selalu memiliki penonton setia.

"Murah sekali karcisnya, jadi tetap ramai. Orang datang ya karena memang itu hiburan yang paling terjangkau," ujar Wahyu.

Baca Juga: Virus Hepatitis B Jauh Lebih Menular, Perlu Deteksi Dini

Soal film yang diputar, Wahyu mengaku penonton tak pernah berharap bisa menyaksikan film terbaru. Hampir semua film yang masuk Bioskop Kalianak merupakan film yang sebelumnya telah selesai diputar berbulan-bulan di bioskop kelas AA, A, B maupun C.

"Kalau di sini ya nunggu giliran. Filmnya biasanya sudah lama turun dari bioskop besar," katanya.

Meski demikian, pilihan film tetap mampu menarik penonton. Film India dengan kisah melodrama, film silat Mandarin lawas, hingga film Indonesia yang saat itu dikenal cukup berani menampilkan adegan-adegan dewasa menjadi tontonan favorit masyarakat.

"Kalau ada film India atau silat Mandarin, pasti ramai. Begitu juga film Indonesia yang dianggap 'panas', penontonnya penuh," ujarnya.

Seiring perkembangan zaman, televisi, kaset video, hingga kemudian bioskop modern membuat satu per satu bioskop rakyat kehilangan pengunjung. Bioskop Kalianak akhirnya ikut menutup layar terakhirnya bersama puluhan bioskop lawas lainnya di Surabaya.

Kini, tidak ada lagi antrean pembeli tiket ataupun suara proyektor yang memutar film. Yang tersisa hanyalah nama Pasar Bioskop atau Gang Bioskop yang masih diucapkan warga hingga hari ini. (*)

Editor : Lambertus Hurek
film india bioskop kalianak kalianak gang bioskop film silat mandarin bioskop kelas D