RADAR SURABAYA – Limbah daun nanas yang selama ini kerap dibuang setelah panen ternyata menyimpan potensi besar sebagai bahan baku tekstil ramah lingkungan.
Potensi tersebut berhasil dikembangkan oleh Inty Nahari, dosen Program Magister Industri Kreatif Fakultas Vokasi Universitas Negeri Surabaya (Unesa), melalui karya tekstil bertajuk Barik.
Karya berbasis serat daun nanas itu lahir dari penelitian mendalam mengenai pemanfaatan serat daun nanas Kelud sebagai material tekstil berbasis serat alam.
Inovasi tersebut mendapat pengakuan internasional setelah dipamerkan dalam ajang seni Becoming: Prakriti Pustaka Padma di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Bali.
Dalam pameran tersebut, Barik terpilih sebagai satu dari 79 karya terbaik hasil kreasi 50 seniman dan praktisi dari delapan negara.
Keikutsertaan ini sekaligus menunjukkan bahwa material lokal Indonesia mampu bersaing di panggung seni dan industri kreatif dunia.
Baca Juga: CEO GOTO Ungkap Strategi Bikin Cuan Perusahaan
Nama Barik berasal dari bahasa Jawa yang berarti garis. Nama tersebut menggambarkan susunan serat daun nanas yang menjadi karakter utama karya itu.
Namun, bagi Inty, setiap garis pada serat memiliki cerita tersendiri karena merekam kondisi lingkungan tempat tanaman tumbuh, mulai dari kualitas tanah, intensitas sinar matahari, curah hujan, hingga proses pengolahannya.
"Ketidakteraturan tersebut tidak saya pandang sebagai kekurangan, tetapi sebagai rekaman alami dari lingkungan tempat tanaman itu tumbuh," ujar Inty, Rabu (29/7).
Berangkat dari filosofi tersebut, ia tidak berusaha menyeragamkan karakter serat seperti tekstil produksi pabrik.
Sebaliknya, keberagaman tekstur, warna, dan ketebalan serat dipertahankan, kemudian dipadukan dengan teknik tenun kluwung khas tradisi lokal.
Menurutnya, perpaduan antara pola tenun yang terstruktur dan karakter alami serat menghasilkan tekstil dengan tampilan unik yang sulit dibuat sama persis.
Baca Juga: Erick Thohir Dorong Regenerasi Atlet Lewat wondr Futsal Series 2026 di Surabaya
"Pertemuan antara pola tenun yang teratur dan karakter alami serat menghasilkan permukaan tekstil yang unik dan sulit direplikasi secara identik," jelasnya.
Berawal dari Riset Serat Daun Nanas Kelud
Penelitian ini dimulai sejak 2023 melalui eksplorasi daun nanas madu Kelud yang terinspirasi relief Candi Penataran.
Riset kemudian berkembang dengan memanfaatkan berbagai jenis serat alam yang tumbuh di kawasan lereng Gunung Kelud.
Inty menilai material lokal seperti serat daun nanas memiliki relevansi tinggi terhadap isu global, terutama mengenai keberlanjutan, pengurangan limbah pertanian, hubungan manusia dengan alam, hingga pelestarian pengetahuan tradisional.
"Serat daun nanas dari kawasan Kelud merupakan material yang sangat lokal, tetapi dapat membicarakan isu yang sedang menjadi perhatian dunia, seperti keberlanjutan, limbah pertanian, hubungan manusia dengan alam, serta perlunya menghargai kembali pengetahuan tradisional," terangnya.
Berpotensi Dikembangkan untuk Industri Fesyen
Hasil penelitian tersebut tidak hanya bernilai artistik, tetapi juga membuka peluang besar bagi industri kreatif.
Serat daun nanas dapat dikembangkan menjadi berbagai produk, seperti fesyen, aksesori, elemen interior, hingga kerajinan tangan bernilai ekonomi tinggi.
Selain itu, inovasi ini berpotensi memperkuat kolaborasi antara petani nanas, perajin tenun, desainer, peneliti, pelaku industri, hingga pemerintah daerah dalam menciptakan ekosistem ekonomi sirkular berbasis limbah pertanian.
Ke depan, Inty berharap dapat memperluas jejaring riset serat alam sekaligus membangun pusat dokumentasi dan laboratorium khusus untuk mendalami karakter material, teknik pengolahan, hingga hilirisasi serat alam Indonesia agar mampu bersaing di pasar global. (rmt)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan